HMTL ITB – Gelar Peduli Lingkungan 2010

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB mempersembahkan kegiatan pengabdian lingkungannya yang bertajuk Gelar Peduli Lingkungan (GPL): Februari 2010.

Rangkaian Acaranya antara lain:

1. Eco School V – SMP 44 Bandung

2. Roadshow ITB Eco Campus

3. Pameran, Seminar, dan Talkshow Lingkungan

4. Expo GPL

LOMBA POSTER

Tema Lomba:
“Potret Sanitasi di Kota Bandung”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum, yaitu siswa/ siswi Sekolah Menengah Pertama se-Kota Bandung (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (Kartu Keluarga/ Kartu Pelajar).
Persyaratan Lomba:
1. Peserta SMP yang terdaftar di SMP dalam lingkup Bandung disertai surat keterangan dari sekolah.
2. Mengisi formulir yang disediakan
3. Karya harus sesuai dengan tema “Potret Sanitasi di Kota Bandung”
4. Karya Dalam bentuk hard copy ukuran A3 dan merupakan gambar tangan
5. Karya tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
6. Karya bukan merupakan hasil karya orang lain dan tidak pernah ditampilkan/dikirimkan ke pihak lain sebelumnya
7. Belum pernah dipublikasikan dan diikusertakan dalam lomba poster sejenis
8. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
9. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
10. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)

Hadiah :
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 200.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 150.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 100.000 + piagam penghargaan

LOMBA VIDEO

Tema Lomba:
“Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor).

Persyaratan Lomba:
1. Peserta adalah siswa SMA dan umum
2. Peserta adalah tim yang terdiri dari 5 (lima) orang atau kurang
3. Peserta adalah pemegang hak cipta atas video yang diikutsertakan dalam lomba
4. Berdurasi 20 detik-5 menit (termasuk credit title)
5. Kategori karya adalah video pendek dengan format iklan, kampanye, dokumenter, animasi, video seni, yang sesuai dengan tema(implisit/eksplisit)
6. Film dikirim dalam bentuk DVD / MiniDV PAL beserta:
o Formulir yang telah diisi lengkap
o Foto copy data diri(KTP/KTM/Katu Pelajar)
o Sampul film (print out & file data *.jpeg ukuran cover dvd)
7. Peserta diperkenankan mengirimkan lebih dari 1 (satu) video dengan memenuhi persyaratan masing-masing.
8. Apabila bahasa asli dari film bukan Bahasa Indonesia/Bahasa Inggris, maka film wajib diberi subtitle dalam Bahasa Indonesia/Bahasa Inggris.
9. Film yang dikirimkan berhak disiarkan atau ditayangkan oleh panitia untuk keperluan media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan.
10. Peserta yang sudah mendaftar dan mengirimkan filmnya berarti bersedia apabila materi dan potongan film digunakan oleh panitia untuk keperluan promosi dan bumper acara.
11. Video belum pernah memenangkan lomba lain dan bukan profil industri/perusahaan, iklan televisi, iklan layanan masyarakat, dan video musik.
12. Video tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
13. Penggunaan materi film yang berasal dari karya pihak lain (seperti: musik latar dan/atau potongan gambar/footage) harus disertai izin khusus dari pihak yang terkait.
14. Media pembuatan(hardware/softwar

e) dan media peralatan yang dipakai bebas sesuai kreasi partisipan.
15. Calling entry dibuka pada tanggal 1 Oktober 2009 dan ditutup pada tanggal18 Oktober 2009
16. Kemas berkas pendaftaran Anda, yang terdiri dari formulir pendaftaran, dan semua kelengkapan wajib, dalam satu amplop tertutup. Jangan lupa tulis alamat pengirim maupun penerima dengan jelas.
17. Kirim pendaftaran Anda ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung sebelum tanggal 21 Desember 2009
18. Periksa situs web htm l.tl.itb.ac.id untuk melihat apakah pendaftaran Anda sudah diterima atau belum. (ada ga?)
19. Hasil penjurian akan diumumkan pada tanggal 1 Januari 2010.
20. Video yang terpilih sebagai pemenang dipamerkan pada acara puncak Gelar Peduli Lingkungan HMTL ITB pada tanggal Februari 2010.
21. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
22. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
23. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)

Hadiah :
Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan

Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 750.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan


LOMBA ARTIKEL
Tema Lomba:
“Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor)

Persyaratan Lomba:
1. Peserta adalah siswa SMA dan umum
2. Artikel belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang dilombakan di media lain
3. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, diketik dengan font Arial, Size 12, dan Paragraf 1.5 spasi, disertai judul artikel.
4. Artikel dapat dilengkapi dengan foto berwarna
5. Baik artikel maupun foto merupakan murni hasil karya peserta. Tidak diperkenankan menjiplak atau mengambil foto orang lain yang melanggar hak cipta.
6. Artikel dan foto harus berisi informasi yang sesuai dengan tema lomba.
7. Artikel tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
8. Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu artikel.
9. paling lambat tanggal 21 Desember 2009.
10. Artikel sudah harus diterima Panitia sebelum tanggal 21 Desember 2009 dapat dikirimkan langsung ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung.
11. Artikel yang terpilih sebagai pemenang akan dipamerkan pada acara puncak Gelar Peduli Lingkungan HMTL ITB pada tanggal Februari 2010.
12. Panitia GPL dan HMTL-ITB memiliki hak penuh untuk menggunakan semua karya yang diterima untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat).
13. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
14. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian :
1. Kesesuaian dengan tema lomba
2. Keaslian dan keunikan gagasan tulisan
2. Tata bahasa dan penggunaan ejaan yang benar dan baik
3. Kuantitas penulisan sesuai tema
4. Isi/materi yang disajikan

Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 250.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 200.000 + piagam penghargaan

Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan

LOMBA FOTO
Tema Lomba:
“Potret Sanitasi di Jabar dan DKI Jakarta”

Syarat Peserta:
Terbuka untuk Umum (kecuali anggota Panitia dan keluarga).
Peserta wajib menggunakan nama asli sesuai dengan identitas resmi (KTP/SIM/Paspor)

Persyaratan Lomba:
1. Terbuka untuk pelajar SMA dan umum, kecuali anggota Panitia Lomba dan Dewan Juri Lomba beserta keluarganya. Peserta tidak dipungut biaya
2. Peserta dapat mengirimkan maksimal 5 ( lima ) karya foto dengan judul bebas, sesuai tema, ukuran 10 R.
3. Dibelakang foto dicantumkan keterangan foto (judul foto, lokasi dan tahun pemotretan), beserta identitas fotografer (nama, profesi, alamat, nomor telepon/handphone dan email).
4. Karya Lomba harus merupakan karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan ataupun diikutsertakan pada lomba sebelumnya. Untuk calon pemenang akan dikonfirmasi keaslian karyanya dengan menunjukkan file digital asli atau negative film.
5. Karya foto dibuat secara manual/digital dan bukan merupakan rekayasa computer. Bila melanggar, akan didiskualifikasi
6. Olah digital hanya diperbolehkan pada proses croping, brightness, contrass & mode color.
7. Karya foto tidak mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama)
8. Karya Lomba dimasukan ke dalam amplop dengan tulisan LOMBA FOTO disudut kiri atas amplop dan dikirim via pos atau diantar langsung ke Panitia Lomba Foto dengan alamat: Sekretariat HMTL ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132.
9. Foto sudah harus diterima Panitia sebelum tanggal 21 Desember 2009 dapat dikirimkan langsung ke Sekretariat HMTL ITB Jl. Ganesa No. 10 Bandung melalui pos, agen pengiriman, maupun diantar langsung.
10. Panitia penyelenggara dan dewan juri tidak melayani surat-menyurat dalam kaitan dengan lomba ini.
11. Panitia GPL dan HMTL ITB berhak menggunakan semua hasil foto yang diikutsertakan dalam lomba ini untuk media pendidikan dan/atau kampanye lingkungan di masa mendatang (hak cipta tetap pada pembuat)
12. Panitia tidak bertanggung jawab jika di kemudian hari terdapat gugatan oleh pihak ketiga dari karya yang dikirimkan peserta.
13. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Kriteria Penilaian :
1. Originalitas
2. Kesesuaian tema
3. Ketersampaian pesan lingkungan (komunikatif)

Hadiah:
Kategori SMA
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 400.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 300.000 + piagam penghargaan

Katergori Umum
Juara 1 : Uang tunai sebesar Rp. 1.000.000 + piagam penghargaan
Juara 2 : Uang tunai sebesar Rp. 7500.000 + piagam penghargaan
Juara 3 : Uang tunai sebesar Rp. 500.000 + piagam penghargaan

Iklan

Resume per Kegiatan FHB goes to Bali

1. Kunjungan ke TPA Temesi
TPA ini dikelola oleh Rotary-Act International. Bukan hanya mengelola sampah 50 ton per hari, namun juga ada media sosialisasi tentang persampahan dan tempat-tempat yang tidak ada dan dibayangkan ada di TPA. TPA yang asri, banyak pohon, dikelilingi sawah, padahal tanah di bawah TPA itu merupakan timbunan tanah dan kompos dari sampah organik, sehingga yang tadinya jurang disulap menjadi tanah rata.
Tantangan yang dihadapi TPA Temesi saat ini antara lain, dana operasional yang mencapai 800 juta per bulan (listrik, air, telepon, biaya pegawai) dan penjualan produk kompos yang masih kurang, serta dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah. Secara support dana sepertinya tidak ada hambatan, karena ternyata TPA tersebut bentuk program penjualan karbon dari Rotary-Act, yang mungkin tidak banyak orang yg tahu dan paham. Namun secara ideal, seharusnya pemerintah dan masyarakat lebih aware dan membantu TPA tersebut, karena prospek TPA tersebut sangat bagus dan seharusnya dapat berjalan lebih baik lagi, baik dari bertambahnya kapasitas sampah yang dapat diolah, penjualan hasil kompos yang baik juga, serta kesejahteraan pekerja.
Tempat sekitar pengolahan juga masih kurang dan agak kumuh, termasuk rumah sementara para pekerja yang dari tampak luar saja kurang bagus.


2. Diskusi dengan Bali Fokus (bli Dewa)
Bali Fokus sudah banyak melakukan program pemberdayaan masyarakat, khususnya di daerah Indonesia Tengah dan Timur. FHB harus banyak belajar dari evaluasi dan pengalaman Bali Fokus. Beberapa yang saya tangkap, antara lain: buat komunikasi yang baik dan efektif dengan masyarakat setempat tersebut, bisa diawali dengan berkoordinasi dengan petinggi2 masyarakatnya (local champion) dulu lalu ke seluruh warga. Untuk koordinator program lebih baik pilih orang selain warga namun berasal dari daerah yang sama, supaya terjaga kenetralannya namun tetap dapat berkomunikasi dengan baik karena sedaerah.
Jika sudah masalah dana (uang), itu menjadi sangat sensitif, berhati-hatilah. Jelaskan sebaik2nya karena semua yg kt lakukan pd dasarnya sangat berguna bagi masyarakat tersebut, mungkin tdk secara langsung dan cepat, bisa secara tdk langsung dan agak lama nantinya. Sehingga program tersebut bukan proyek yang dapat memberikan uang bagi warga krn telah melaksanakan program tersebut.
3. Acara Penganugerahan dan Seminar
Acara ini dihadiri banyak orang-orang penting dan berjabatan, pejabat PU, pejabat daerah, arsitek senior, ahli penataan ruang, dan aktivis2 lingkungan nasional. Seminarnya juga sangat inspiratif karena presentasi dari tiap panelis yang sudah merasakan asam garam dan berprestasi di bidangnya. Namun presentasi sub tema agak membosankan dan menjadi sepi, entah kenapa, tapi terlihat panitia kurang dapat mengkondisikan acara. Sayang sekali karena sebenarnya presentator sangat baik dan menampilkan karya yg bagus, seharusnya banyak undangan yang bisa dan dapat hadir. Sehingga presentasi sub tema menjadi membosankan dan suasana presentasi tidak terkondisikan.
Harapannya orang-orang yang telah presentasi tersebut dapat selalu berkoordinasi dengan PU khususnya Dirjen Penataan Ruang, karena hasil karya mereka sangat baik bila diaplikasikan di nasional dengan bantuan pihak Pemerintah.

4. Acara Konsolidasi Pemenang Sayembara
Acara ini diawali dengan presentasi program yang diusung oleh tiap pemenang, baik dari pemenang Sayembara kota lestari (6 pemenang) dan juga lahan terlantar (3 pemenang). Waktunya terlalu singkat, sehingga terkesan penyampaian formalitas saja, seharusnya panitia dan juri konsern akan hal itu. Selanjutnya konsolidasi oleh pihak PU Dirjen Penataan Ruang dan para pemenang yang akan didanai programnya. Ini yang menarik, karena terjadi perdebatan dan diskusi cukup panjang. Awalnya pihak PU akan memakai sistem proyek dengan birokrasi yang seperti kt tahu panjang dan ribet, dalam pendanaan program2 tersebut pada anggaran 2010. Spontan forum sangat tidak setuju, sama halnya dengan FHB yang diwakili Sano yang menjelaskan dengan baik kekurangsetujuannya akan metode tersebut dan bilang tetap akan segera jalan karena masyarakat menunggu program FHB. Sehingga kesepakatannya, pihak PU akan membentuk tim lebih lanjut untuk membicarakan pendanaan tersebut supaya semua merasa baik adanya. Jadi kita tunggu saja kabar2 baiknya.

5. Learning Experience di Bali
Budaya Bali dan lingkungan, sepengamatan saya ke2 hal itu sangat dekat dan saling mendukung. Bali yang kental dengan budaya Hindunya, ajaran2nya sangat mendukung pelestarian lingkungan, namun seperti kota2 lain di negara berkembang lainnya, memang hal tersebut sudah diancam oleh globalisasi. Ditambah bali yang merupakan pulau terindah di dunia (kata pak SBY) mengundang banyak turis asing yang juga menjadi pihak2 asing yang ingin menanamkan modalnya disini dengan membangun hotel lah, pariwisata lah, dan lainnya. Sayangnya hal tersebut tidak di imbangi dengan regulasi pemda yang melestarikan lingkungan. Sehingga ketakutan saya Bali akan terancam keindahan lingkungan alaminya. Contoh dari 4hari 3 malam kemarin itu saja saya sdh melihat: Pantai Sanur yang dipetak2an oleh hotel2 padat, tata ruang daerah Kuta yang sudah sangat padat, perluasan daerah Bali yang memakan wilayah2 terbuka hijau sekarang banyak dijadikan perumahan dan villa2 baru. Padahal semakin makmur daerah tersebut seharusnya semakin bersih lingkungannya. Seperti yang disampaikan seorang panelis Profesor seminar dsana, setidaknya Bali belum seperti Jakarta/Bdg, masih dapat ‘diselamatkan’.

Resume Harian FHB goes to Bali

Sudah saatnya gerakan penyelamatan dan pelestarian lingkungan dilakukan secara BERSAMA, SINERGIS, KOMPREHENSIF, dan KONSISTEN. Sudah sering kita mendengar pepatah “Think Globally, Act Locally”, dan sekaranglah saatnya bertindak tanpa berlama-lama berwacana. Latar belakang itulah yang membuat FORUM HIJAU BANDUNG (FHB) yang diusung oleh seluruh stakeholders kota Bandung (Pemerintah, Swasta, Akademisi, serta Organisasi Masyarakat) ada. FHB sekiranya menjadi atap pergerakan, yang dasarnya adalah isu dan kondisi lingkungan saat ini, serta pondasi-pondasinya ialah seluruh partisipan FHB.

21 Desember 2009 di Sanur, Bali, merupakan salah satu bentuk perjuangan dan konsistensi FHB, dengan memenangkan Sayembara Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari yang dibuat oleh Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Penataan Ruang (DPU Dirjen Penataan Ruang). Program yang diusung FHB ialah Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju Kota Lestari (Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan, Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT), yang nantinya akan difasilitasi pelaksanannya oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang pada tahun anggaran 2010.

Berikut resume hasil kegiatan FHB dalam rangka simbolisasi pemenang Sayembara dan studi banding ke organisasi-organisasi lingkungan di Bali, pada tanggal 19 – 22 Desember 2009 lalu.

Hari PERTAMA – 19 Desember 2009

Perwakilan FHB yang berangkat ke Bali yaitu: Pak Inan (Penasihat FHB), Sano (Koord.FHB), Tian (Koord. Program Kolaborasi), Danial (Koord.Program Eco-Hotel Rating), dan Yandi (Koord.Program Masuk RT). Tetapi Pak Inan tidak ikut rombongan 4 lainnya, karena telah berangkat lebih dahulu. Sampai di Bandara Ngurah Rai, Denpasar – Bali, sudah cukup malam sekitar jam 9 waktu Indonesia tengah (WITA). Kami berempat dijemput oleh bli (panggilan laki-laki bahasa bali) Adi, perwakilan Aston Hotel Denpasar, untuk check in dan istirahat di hotel. Kami sungguh bersyukur karena untuk akomodasi selama di Bali, didukung oleh Pak Inan dan Hotel Aston.

Untuk merayakan sampainya selamat kami di kota Dewata – Bali, kami makan malam di warung kaki lima dekat Hotel, dan kebetulan ada warung masakan Banyuwangi, tempat kelahiran Sano dan berharap kami mendapat korting karena sedaerah dengan Sano. Hal yang terlupa oleh kami, masakan Banyuwangi terkenal dengan pedas dashyatnya, alhasil khususnya Yandi mengalami pergolakan di perutnya.

Awal-awal agak aneh rasanya dengan perbedaan waktu sejam ini, karena sudah jam 11 malam, tapi kami masih merasa belum kantuk walaupun agak lelah. Namun untuk mendapat tenaga yang cukup untuk aktivitas esok, kami memaksakan untuk tidur dengan bantuan televisi, alhasil ada yang tertidur di sofa.

Hari KEDUA – 20 Desember 2009

Seperti yang sudah diduga, kami agak terlambat bangun dari yang kami jadwalkan seharusnya. Namun pagi ini kami usahakan seefektif mungkin, setelah sarapan 4 sehat 5 sempurna gratis dari Hotel, sambil menunggu giliran kamar mandi, ada yang berenang, dan ada yang memanfaatkan fasilitas hotspot – minimal mengganti status facebook dulu.

Mobil yang kami rental pun telah datang, karena tidak mendapat minibus xenia/avanza, kami mendapat karimun, dan mulai melakukan perjalanan dengan bantuan peta print-an dari Hotel dan Tian sebagai supir karena satu-satunya yang ada SIM. Target pertama adalah bertemu Pak Inan di sekretariat Bali Fokus, sebuah lembaga swadaya masyarakat bentukan Ibu Yuyun Ismawati, seorang penggiat lingkungan yang telah mengharumkan nama Indonesia karena menerima penghargaan sekelas nobel lingkungan internasional.

Agak sulit awalnya mendapat sekretariat Bali Fokus karena terletak di wilayah dalam, dan ternyata Ibu Yuyun kecapaian sehingga tidak dapat bertemu dan mengantarkan kami ke lokasi-lokasi asuhan lingkungannya. Lalu kami bertemu bli Nengah, seorang aktivis Bali Fokus juga, yang ditugaskan mengantar dan menjadi environmental guide kami ke lokasi-lokasi asuhan Bali Fokus. Karena hari juga sudah siang dan matahari sangat terik, kami langsung meluncur ke TPA Temesi di Gianyar (www.temesirecycling.com).

TPA Temesi saat ini sudah dikelola oleh Rotary-Act International, mengelola sampah dengan kapasitas 50 ton per hari, dan luas area TPA sekitar 2400 m2. Dari depan, sangat tidak terlihat seperti TPA, karena pastinya bayangan kita TPA adalah tempat yang kotor, bau, gersang, panas, dan kondisi buruk lainnya. Namun memang TPA Temesi ini dibuat juga untuk kampanye dan sosialisasi ke masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik dan bersih. Oleh karena itu area depan TPA dibuat untuk gedung yang berisi media-media sosialisasi, bahkan ada museum dan tempat bersantai karena memang sangat asri dengan pohon-pohon teduh disekitarnya. Lalu dibelakang area, terdapat pengolahannya, yaitu antara lain tempat pemilahan, pencacahan, dan kompostingnya. Pekerja di TPA ini sekitar 80 orang yang kebanyakan berasal dari Jawa. Memang bila kita lihat dan perhatikan di lokasi ini, tidak seperti area depan yang cukup bersih dan asri. Karena area pengolahan ini memang tempat sampah diturunkan dan diolah, jadi masih banyak lalat dan agak bau, namun setidaknya tidak seperti TPA konvensional di kota besar Indonesia lainnya.

Para pekerja juga disediakan tempat tinggal temporal yang terbuat dari papan dan bambu, serta MCK dan beberapa tunjangan termasuk tunjangan kesehatan. Tantangan yang saat ini masih dihadapi TPA Temesi yaitu seperti dana operasional yang cukup besar yaitu sekitar 800 juta per bulan (listrik, air, telepon, biaya pekerja). Tidak sebanding dengan pemasukan penjualan produk kompos yang dijual Rp 1000/kg, sehingga saat ini pun masih didonasi oleh Rotary-Act International. Memang sangat disayangkan, padahal TPA Temesi mengelola sampah-sampah masyarakat namun kurang didukung oleh masyarakat dan Pemda setempat.

Ternyata kami lupa waktu di TPA Temesi karena sangat asyik berdiskusi, lalu kami makan siang di rumah makan Bali yang menyediakan 2 ayam untuk 1 porsinya. Belajar dari kesalahan, kami tidak mau terlalu kalap untuk memakan memakai sambalnya seperti malam lalu. Di sana kami juga tidak ingin sia-sia waktu, kami melanjutkan diskusi dengan aktivis Bali Fokus. Kami banyak mendapat pelajaran dari evaluasi-evaluasi kegiatan Bali Fokus yang sangat dekat dengan masyarakat, sama seperti FHB yang ingin selalu bertindak aktif terhadap permasalahan lingkungan dengan peran serta masyarakat itu sendiri.

Karena telah sore hari dan tidak sempat untuk melanjutkan lagi ke tempat-tempat asuh Bali Fokus lainnya, kami memutuskan untuk kembali. Namun kami memanfaatkan waktu untuk berjalan-berjalan khususnya di pantai Kuta. Dari wilayah yang sangat terkenal pariwisatanya dan banyak sekali turis baik domestik maupun internasional, kami juga memperhatikan kondisi lingkungannya yang hingga saat ini semakin padat dan cenderung agak kumuh. Namun dari segi situs pariwisatanya, memang terawat begitu pula pantainya, tidak begitu banyak sampah bertebaran, di jalan raya pun begitu. Kami harap pemerintah, hotel-hotel sebagai pihak swasta, dan dengan bantuan masyarakat terus mempertahankan hal itu dan terus membentuk lingkungan menjadi baik. Sangat bersyukur kami tidak juga melewatkan matahari terbenam (sunset) di pantai Kuta tersebut, dan kami harus segera pulang dan beristirahat, khususnya Sano yang saat ini mendapat giliran sakit perut. Setelah sampai di Hotel, kami mencari makan malam namun belajar dari kesalahan, kami lebih memilih warung masakan padang yang lebih aman.

Hari KETIGA – 21 Desember 2009

Hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan oleh kami, karena merupakan acara Seminar “Identitas Kota-Kota Masa Depan di Indonesia” dan Pembahasan Tindak Lanjut Sayembara Kota Lestari. Pagi ini kami langsung bergegas ke Sanuruntuk menghadiri acara tersebut, karena seperti biasa kami agak telat dari jadwal bangun pagi kami. Setelah sampai di Puri Werdhapura tempat acara berlangsung, kami langsung mendaftar dan disambut oleh panitia. Namun ternyata acara juga telat dari yang dijadwalkan karena kehadiran Menteri PU Pak Djoko Kirmanto.

Seminar berlangsung hingga sore hari, dengan berbagai panelis dan undangan yang dihadiri oleh banyak pejabat daerah, arsitek, dan ahli penataan ruang. Seperti Prof. Ir. M. Dhanisworo, Ph.d; Ir. Ridwan Kamil, M.Arch; Ir. Andrea Paresthu, MSc; Prof. Ir. Respati Wikantiyoso, MSA, Ph.D; dan Prof. Ir. Eko Budihardjo. Seminar tersebut juga diadakan pembahasan presentasi dari beberapa karya nasional tentang penataan ruang dan dibagi dalam beberapa sub tema, dan tim FHB mengikuti di pembahasan sub-tema Green Design. Hasil notulensi dan resume lebih lengkap ada di hardcopy.

Setelah seminar, dilanjutkan ke pertemuan pembahasan tindak lanjut, namun ada istirahat waktu sekitar 2 jam. Kami memanfaatkan waktu tersebut dengan istirahat dan ada juga yang pijat, karena akumulasi kelelahan kami membuat otot-otot kaku karena jarang digerakkan. Lalu kami sampai kembali di Puri Werdhapura, dan mengikuti pertemuan tersebut. Pertemuan tersebut merupakan presentasi para pemenang sayembara, yang bukan hanya 6 pemenang Sayembara Kota Lestari, namun ada juga 3 pemenang dari Sayembara Lahan Terlantar. Lalu dilanjutkan dengan sesi pembahasan tindak lanjut oleh perwakilan pihak PU Dirjen Penataan Ruang dan para juri. Sesi tersebut agak alot karena ada perbedaan pendapat dan pandangan terhadap kelanjutan program pemenang sayembara, yang harus menunggu birokrasi penurunan uang program. Namun pada dasarnya, PU belum menemukan metode yang pas dalam hal pembiayaan program, tetapi berusaha setepat mungkin supaya nantinya berjalan dengan baik sesuai tujuan bersama.

Jadi untuk keberlanjutannya akan di hubungi lebih lanjut oleh panitia. Semoga kelanjutannya akan menjadi lebih baik dan mudah, supaya FHB segera mengaplikasikan program kolaborasinya, yaitu Eco Hotel Rating, Peta Hijau Persampahan, dan Masuk RT.

Hari KEEMPAT – 22 Desember 2009

Ini merupakan hari yang terakhir, kami juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan waktu kami di Bali ini. Setelah sarapan dan mengepak barang-barang, kami check out hotel Aston yang megah itu, lalu ke Sanur dulu untuk pamit dan bertemu panitia sayembara. Kemudian berkeliling Denpasar sambil melihat lingkungan dan tata kota yang semakin padat dan sudah banyak perumahan, gedung-gedung pertokoan dan juga perkantoran. Akhirnya kami singgah di sekitar Kuta sambil menunggu penerbangan jam 4 sore.

Salam hijau,

doakan FHB bisa ke kota-kota nasional lainnya.

Press Release FHB Pemenang Sayembara Kota Lestari – PU Dirjen Penataan Ruang

FORUM HIJAU BANDUNG SEBAGAI PEMENANG

SAYEMBARA “PRAKARSA MASYARAKAT DALAM

PENATAAN RUANG UNTUK KOTA LESTARI”

Sesuai hasil pengumuman yang telah diputuskan oleh Dewan Juri Sayembara “Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari” pada tanggal 10 Desember 2009, proposal Forum Hijau Bandung (FHB) berhasil menjadi pemenang dari 6 pemenang yang diputuskan. Proposal FHB (dengan beberapa catatan Dewan Juri) dianggap memenuhi persyaratan dan memiliki kualifikasi untuk difasilitasi pelaksanannya oleh Departemen Pekerjaan Umum (PU) Direktorat Jenderal Penataan Ruang pada tahun anggaran 2010. Judul yang FHB diusung dalam proposal yaitu “Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju Kota Lestari (Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan, Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT)” di Bandung – Jawa Barat.

Seluruh partisipan FHB merupakan aktor kunci yang akan menjalankan program kolaborasi tersebut, yang dipimpin oleh koordinator masing-masing program. Partisipan FHB saat ini telah tercatat sejumlah 57 lembaga, berasal dari Organisasi Akademisi, Organisasi Swadaya Masyarakat, Pemerintah, dan Swasta di Bandung. FHB berharap melalui ketiga program tersebut dapat mengembangkan kota Bandung sebagai kota lestari. Perwujudan kota lestari harus dipastikan secara holistik dan setiap komponen kota Bandung terlibat dalam pencapaiannya serta pemeliharaannya. Sesuai pepatah mengatakan ‘lebih sulit mempertahankan yang sudah ada daripada membuatnya di awal’, pencapaian awal dari ketiga program dari FHB tersebut harus dipertahankan dan ditambah pencapaian – pencapaiannya ke target yang lebih besar. Mengembangkan sebagai kota lestari berarti membangun manusia kota tersebut menjadi lebih dan semakin berinisiatif serta bekerja sama dalam melakukan perubahan dan gerakan bersama. Gerakan bersama itulah  yang  diusung  oleh FHB untuk membuat perubahan-perubahan di lingkup permasalahan lingkungan, yang saat ini diawali dengan ketiga program yang diusung tersebut.

Saat ini ketiga program yang diusung dalam proposal: Peta Hijau Persampahan kota Bandung, Masuk RT, dan Eco-Rating Hotel, sebenarnya sudah dilakukan dan diinisiasikan hingga saat ini. Ketiga program tersebut akan berjalan bersamaan sesuai waktu yang direncanakan, yang pada akhirnya nanti masing-masing menjadi 3 pondasi kuat dalam menginisiasikan kota Bandung sebagai kota lestari. Harapan kami, implementasi program di lapangan kedepannya akan lebih baik lagi setelah mendapat bantuan dana dan dapat bekerja sama dengan Departemen Pekerjaan Umum (PU) Dirjen Penataan Ruang.

Lalu pada tanggal 21 Desember 2009 di Puri Werdhapura, Sanur, Bali, lima orang perwakilan FHB menghadiri acara simbolisasi dan konsolidasi Sayembara. Acara tersebut diawali dengan Seminar “Identitas Kota-Kota Masa Depan di Indonesia”, lalu Pembahasan Tindak Lanjut (Konsolidasi) Pemenang Sayembara ‘Kota Lestari’ dan Sayembara ‘Lahan Terlantar’. FHB menerima piagam dan plakat penghargaan sebagai simbol pemenang Sayembara ‘Kota Lestari’, oleh Menteri PU Pak Djoko Kirmanto dan Direktur Jendral PU Penataan Ruang, serta jajarannya. Acara tersebut dihadiri banyak undangan penting seperti petinggi Departemen PU dan jajarannya, Instansi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perwakilan Perguruan Tinggi Nasional, serta masyarakat dan pengamat perkotaan. Dari hasil konsolidasi, ternyata dari pihak PU Dirjen Penataan Ruang, Dewan Juri, maupun para pemenang sayembara, belum menemukan metode yang pas dalam hal pembiayaan program. Karena sistem proyek dengan birokrasinya cenderung tidak cocok dalam pembiayaan program yang melibatkan masyarakat ini; tetapi semua tetap berusaha setepat mungkin supaya nantinya berjalan dengan baik sesuai tujuan bersama. Jadi untuk keberlanjutannya akan di hubungi lebih lanjut oleh panitia. Semoga kelanjutannya akan menjadi lebih baik dan mudah, supaya FHB segera mengaplikasikan program kolaborasinya, yaitu Eco Hotel Rating, Peta Hijau Persampahan, dan Masuk RT, karena masyarakat telah menunggu program aktif dalam pengabdian lingkungan untuk Bandung menuju kota lestari.

Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi :

Sekretariat Forum Hijau Bandung

Alamat: Jalan Kanayakan Blok D Nomor 35, Dago Atas – Bandung.

No Telepon: 022-2500189. Email: forumhijaubandung@gmail.com

Pemenang Sayembara Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari