Peminjaman Piring FHB

Halo semuaaa…

Mau bikin kegiatan yang ZEROWASTE? Tapi bingung karena gak punya peralatan yang mendukung?

Gak perlu bingung… 😀

Saat ini FHB memiliki aset Piring Anyaman sebanyak 140 buah yang bisa dipinjam oleh partisipan FHB lho. Caranya gampang, tinggal hubungi tim manajemen FHB melalui akun FB Manajemen FHB.

Piring Anyaman dari lidi yang bisa digunakan dan dipinjam oleh partisipan FHB

Sebelum pinjam, perhatikan dulu ya syarat2 peminjaman berikut ini:

1. Mengisi formulir yang disiapkan oleh tim manajemen FHB.
2. Membuat dokumentasi penggunaan barang dalam kegiatan.
3. Menyertakan surat dari lembaga atau panitia kegiatan.
4. Menyertakan foto kopi KTP/tanda identitas lain.
5. Mengembalikan sesuai batas waktu peminjaman dan dalam kondisi seperti awal diterima.
6. Membayar biaya perawatan (minimal Rp 10.000).

Yuks saling membantu untuk gaya hidup yang ramah lingkungan… 😉

Iklan

[Notulensi] Pertemuan #2 FHB 12/13: Green Economy

20 Juni 2012

Museum Asia Afrika

Narasumber : Dr. Achmad Sjarmidi, B. Sc., Ph.D

Dr. Arief Anshory Yusuf, S.E., M.Sc.

Tema green economy diambil dari tema Hari Lingkungan Hidup 2012.

Pak Arief  : Green economy muncul pertama 2 tahun lalu mulai bergema. UNEP yang membuat laporan mengenai green economy. Ada 3 hal dari green economy :

  1. Ekonomi rendah karbon. Gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh industri dengan bahan bakar fosil. Gas ini adalah gas rumah kaca yang menghasilkan pemanasan global. Green economy adalah yang tidak menghasilkan karbon.
  2. Resource efficient. Yaitu sumber daya alam, seperti air, hutan, angin, dll. Ekonomi hijau adalah yang efisien penggunaan SDAnya.
  3. Social inklusif, ekonomi yang berpihak pada orang kebanyakan. Data statistik kita bilang penghasilan orang Indonesia per kepala tahun 2011 berdasarkan BPS adalah 10 juta/bulan tiap keluarga. Tetapi sangat timpang. Total dibagi 50 juta.

Dalam ekonomi ada cara untuk menghitung berapa sda yang digunakan untuk aktivitas ekonomi per sejuta rupiah. Ironisnya 15% dari GDP Indonesia digunakan melalui likuidasi aset alam. (kita beli combro dengan emas yang ada di ibu kita, bukan kita beli dengan hasil penjualan emas).

Social inklusif. Pemerintah sering bilang kemiskinan kita turun terus. Saya termasuk minority yang tidak percaya. Berapa persen orang Indonesia yang isi dompetnya kurang dari 10 ribu? Ternyata 50%, 110 juta. Setara dengan Cameroon, pantai gading Afrika. Cina sudah 30%. Banyak yang membanggakan Indonesia menengah.

Ekonomi kita semakin timpang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Mengapa kita gagal menjalani ekonomi hijau?

  1. Kita tidak pandai berhitung. Setiap keputusan ekonomi yang dilakukan pasti mementingkan untung atau tidak. Contoh di Thailang. Di pantai ada hutan bakau. Lalu ditanyakan mau jadi bakau atau tambak udang. Ternyata kalau jadi tambak udang tiap hektarnya, keuntungan 9600 dolar/bulan. Kalau bakau Cuma 584 dolar/hektar/tahun. Ternyata di Thailand kalau kita punya tambak udang akan disubsidi. Kalau subsidi dihilangkan, itu bukan keuntungan. Kalau dikurangi subsidi jadi 1220. Kalau hutan mangrove yang dihilangkan, nelayan yang mengambil ikan akan kehilangan 987 dolar per tahun. Maka mulai kelihatan mana yang lebih baik. Tambak udang akan rusak dalam beberapa tahun yang perlu direstorasi. Ada nilai-nilai yang perlu diperhitungkan jika hutan bakau hilang dan tidak ada yang mencegah bencana. Keputusan-keputusan seperti ini tidak sejalan dengan orang bisnis. Ini hampir terjadi di hampir semua hal. Sering terjadi karena angka-angka ini tidak kasat mata. Bagaimana caranya? Harus pandai berhitung dan mula komprehensif dalam nilai-nilai aset-aset
  2. Kita kurang peduli pada hari esok. Cina adalah champion dalam green economy. Di cina, 60-75% energi terbarukan diproduksi oleh mereka. Kenapa bisa begitu? Karena pemerintahan di sana itu-itu lagi, jadi perencanaannya jauh ke depan. Basis ekonomi di Indonesia dan Cina sama-sama pasar. Tapi kalau Indonesia basis politiknya juga pasar. Tidak berpikir jangka panjang.

Unang : sejauh mana pengaplikasian green economy di Indonesia? Jangan-jangan untuk promosi saja?

Achmad Sjarmidi : Orang Indonesia suka lupa sejarah. Green economy adalah mistikfikasi baru yang makin kabur. “Limit to grows”. Secara sosial manusia tidak ada batasnya, sedangkan SDA ada batasnya. Tahun 82 Only one earth : lebih acak. Tahun 92, muncul “Our sustainable future”. Tahun 2002 “Taking nature into account”. Bagaimana mengukur alam dengan ilmu ekonomi? Sekarang “The future be won”kembali ke masalah suka-suka saja. Dan semua yang bikin konsepnya adalah UNEP. Negara yang memakai konsep UNEP tidak ada yang berhasil. Coba intrepretasi dulu. Karena kita suka dengan dogma-dogma. Bukan green economy seperti prospek, tetapi seperti sinetron. Tidak terukur. Konsep ini sebetulnya tidak mampu diturunkan dan diinterpretasi. UU lingkungan hidup tahun 2003 tidak ada dasar etika lingkungan. Kalau dulu dasarnya lingkungan adalah karunia Tuhan, sekarang lingkungan adalah hak semua orang. Lalu ke mana kita mau bersandar sekarang? Kalau kita tidak menginterpretasikan, lebih baik jangan dilakukan. Kalau ditanya apa itu Green Economy, semakin abstrak. Saya sendiri masih bingung kenapa ada yang masih mau diskusi tentang ini. Di Indonesia, kementrian yang harus ditutup adalah KLH dan Kehutanan. Karena dari tahun ke tahun hasilnya turun terus. Isinya hanya kirim delegasi ke mana-mana. Karena Indonesia tidak berani membuat konsep sendiri. Di ranah teori, ekonomi dan ekologi sudah sejalan. Tetapi sehari-hari susah. Selama Indonesia masih mimpi sama industri, pasti disparitasi. Kalau orang ekonomi ga pake industri ga mungkin. Kalau ngomongin ekonomi, urusan tidak ada yang selesai.

Yoga : opini. Agak aneh mendengar kalau undang-undang tidak ada etika lingkungannya. Padahal jelas ada filsafatnya. Itu adalah sebuah produk. Ada fase masyarakat Indonesia itu teosentris. Ketika lingkungan hidup menjadi hak semua orang, menjadi fase antroposentris. Kalau jadi hak semua orang, jadi kapitalisme. Ujung2nya kita mengobyekan alam. Dengan green economy, saya tidak menganggapnya wah. Kenapa kita tidak menggali green yang lain, bagaimana kita memperlakukan alam. Bukan soal konsep, tetapi pemikir juga seorang aktivis. Ada kesenjangan juga pada tataran pemikir. Idealisme dan realisme. Yang saya tunggu-tunggu sebenarnya bagaimana kita bicara lokalitas. Kalau mau Indonesia maju, desanya yang berdaulat.

Tambahan : Green revolution yang gagal di Indonesia.

Achmad : Masalah isu hak asasi dan demokrasi. Padahal kalau kita mau belajar, nggak perlu jauh-jauh. Pergilah ke suku Baduy, Kampung Naga, Ciamis. Ketika saya melihat orang Jerman, pergi ke Baduy, padahal sebenarnya kita bisa belajar soal ekonomi hijau ya di daerah itu. Karena konsep kesinambungan ada di sana. Kita bisa belajar dari local wisdom. Di sana ada soal kekuasaan, kesejahteraan. Tidak ada kelaparan.

Kalau 100% lingkungan, kita nggak makan. Begitupula kalau ekonomi. Maka tidak usah didikotomikan. Perlu saya akui di kampus saya, mahasiswa yang mengambil ilmu ekonomi lingkungan saja sedikit. Kita harus seimbang. Bukan tidak mungkin kita bisa membuat sistem yang baik. Yang selalu menyalahkan ekonomi, ekonomi yang mana? Ekonomi hijau, kita lihat saja substansinya. Kalau tidak sesuai dengan budaya kita, tidak usah. Kebetulan saya sering diskusi dengan teman dari PLH, yang sering akrtif diskusi di ranah internasional. Dia kekeuh bahwa ekonomi hijau punya definisi masing-masing per negara. Maka kita juga punya ruang sendiri-sendiri. Banyak yang pesimis. Dulu orang pesimis bahwa wanita tidak bisa ikut pemilu, nyatanya bisa. Maka untuk yang muda jangan banyak pesimis.

Penanya : Green economy untuk Indonesia :

  1. Pencemaran air oleh limbah pabrik
  2. Pencemaran udara
  3. Pestisida
  4. Sampah. Kalau dibakar otomatis menambah polusi udara. Kalau dengan bio gas saya setuju. Tapi kalau dengan insinerator, saya kurang setuju.
  5. Ozon. Pemakaian CFC, harus ditiadakan. Ujung-ujungnya pemanasan global.
  6. Penggundulan hutan

Saya mau mengkritik Al-Gore. Yang paling menyakitkan, Indonesia tidak pernah… kalau di Jepang diceritakan tentang bencana macam-macam. Kenapa Al gore menyepelekan Indonesia? Padahal Freeport ada di Indonesia. Orang Indonesia yang bicara tentang green economy harusnya memboikot. Luasnya Indonesia tidak diakui. Kalau bicara tentang green economy, ada pertanyaan yang ahli lingkungan hidup tidak bisa jawab. Kenapa kalau pemerintah yang menebang pohon tidak ditindak? Kalau pohon caringin dibabat, berapa oksigen yang hilang? Harus ada konferensi besar-besaran di Indonesia. Perlu diperhitungkan secara ekonomi.

Hal ini berkaitan dengan persoalan kita yang tidak pandai menghitung. Karena kita mau industri. Semua masalah ini berawal dari revolusi industri. Karena kita mau modern, masal, kasih kesempatan orang-orang yang tidak mengerti. Padahal sebenarnya konsepnya sudah ada dari beratus tahun yang lalu. Tetapi karena kita mau modern, maka konsep itu tidak dipakai. Kenapa konsep yang disetujui di seluruh dunia ini tidak bisa diimplementasikan di Indonesia?

Arif : kita terkenal konsumtif.  Barang-barang yang kita beli seperti BB, laptop, dan lainnya justru malah membuka perkerjaan untuk orang-orang China. Bahkan pada zaman ericsson mau meluncurkan produk, dipilih tempat di Jakarta sebagai tempat launching pertama. Ini adalah salah satu bentuk perilaku kita yang tidak memikirkan hari esok.

Green ini apakah benar atau lifestyle? Maka ini ditawarkan sebagai lifestyle baru. Saya bicara UU karena kecenderungan kebingungan. Maka disebutkan hak semua orang agar mengurus masing-masing.

Kesimpulan : konsep green economy dari UNEP masih terlalu global. Maka harus diidefinisikan oleh masing-masing negara, bahkan per daerah.