[Agenda] Pertemuan #4 FHB 12/13: Peta Hijau!

Sampurasuuuuunnn…
Wah, lama banget ya kita gak kumpul-kumpul? Bulan ini kita mau kumpul lagi nih, tema kali ini tentang “PETA HIJAU”. Ajak teman-teman yang lain yaaaa. Cek keterangan lengkapnya di poster ini.

Iklan

[Notulensi] Pertemuan #3 FHB 12/13: Piknik “Menuju Ramadhan Hijau”

17 Juli 2012

16.00

Taman Ganesha

Sharing cerita dari lebaran hijau

Cuham : Lebaran Hijau tahun lalu. Ada lomba foto lebaran hijau. Foto lebaran hijau saya adalah gowes ke masjid berhasil menjadi runner up. Semoga pada tahun ini bisa menyelenggarakan hal serupa tahun ini.

Shelly : tahun kemarin saya dan teman-teman berkegiatan Bersaling yang mencoba zero waste dengan membagi tempat makan dan minum gratis. Maka dari panitia tidak menyediakan kemasan makanan dan minuman. Tetapi masih banyak evaluasi, misalnya dari sponsor ada 1500 minuman kemasan yang harus dibagikan pada hari itu juga. Kemudian kami mencoba memisahkan sampah. Tetapi masih ada yang tercampur dan masih dalam bentuk kresek besar.

Saya juga lumayan aktif di masjid rumah. Selalu ada acara pesantren kilat yang membawa takjil. Selalu ada sampah dari takjil. Tahun kemarin kami mencoba untuk teman-teman yang ikut pesantren kilat harus membawa tempat makan sendiri untuk mendapatkan takjil. Tetapi masih berkendala untuk minuman kemasan. Kami masih akan mencoba dan bertahap. Karena masih ada kesulitan untuk yang tua dan orang-orang yang masih awam.

Guli : mendengar cerita yang lain, saya punya cerita yang jauh bertolak belakang. Karena tahun kemarin masih di bogor dan berada di lingkungan yang tidak paham lingkungan. Puasa 1 bulan selalu nyampah. Kalau ada saudara dan ada acara buka bareng pasti otomatis ada minuman kemasan, mangkok plastik bahkan styrofoam. Datang ke bandung dan dapat isu lingkungan baru justru setelah lebaran. Dan ternyata isu sampah sebesar itu. Alasan orang-orang pasti sama, yaitu praktis dan biasanya lebih murah.

Unang : pengalaman umum saya di Kuningan. Kalau tahun-tahun dulu, tiap lebaran kita disuguhinya gelas kaca. Tetapi semenjak ada air minum dalam kemasan, kebiasaan tersebut diubah. Alasannya simpel untuk kepraktisan. Kalau di daerah belum sampai isu-isu tentang lingkungan.

Tian : Alasan lebih murah, sebenarnya tidak lebih murah. Tapi lebih praktis emang iya. Kata murah sudah terparadigma : praktis itu murah. Dan selain itu sudah ada berbagai macam merk.

Ada cerita dari teh Anil. Nenek dan keluarganya nggak mau pake gelas karena “Kamu mau cuci gelasnya?”. Ya mau bagaimana lagi? Bukan tuan rumah dan ketika Lebaran masa cuci gelas. Dan ketika solat Ied banyak yang malas bawa alas sajadah, dan membawa koran. Tetapi ada solusinya karena ada yang mengumpulkan sampah koran. Mungkin hal tersebut bisa diaplikasikan untuk air minum dalam kemasan. Bagaimana mengumpulkan kemasan air minum tersebut karena bernilai jual. Saya kalau di rumah mengumpulkan sampah gelas plastik dan mengurusnya sendiri. Saya juga mengumpulkan dan membersihkan gelasnya terlebih dahulu untuk mempermudah pemulung.

Melly : saya mau menanggapi soal air minum dalam kemasan (AMDK). Kadang kita beda kebutuhan menghasilkan sampah antara yang single dan berkeluarga. Apalagi ketika mempunyai anak. Misalnya membeli jajanan anak-anak. Bagaimana ya ketika sudah berumah tangga lebih sulit menerapkan zero waste. Kalau suaminya kompak sangat enak. Kalau lebaran, saya kampungnya di Bekasi. Rumah orang tua ada warung. Semua saudara datang ke rumah. Ada AMDK yang warnanya macam-macam. Hal ini sulit dihindari. Selain itu kondisi air di dekat rumah sudah berkurang. Alternatif praktisnya adalah AMDK. Yang saya lakukan adalah coba untuk diri sendiri.

Dari YPBB kami tahun lalu mencoba lomba lebaran hijau dan tips-tips. Apalagi kalau bulan puasa sulit membedakan antara kebutuhan dan kepentingan. Semua orang jadi konsumtif. Kami mencoba secara rutin menginformasikan ke masyarakat, terutama ke komunitas YPBB. Saya mengamati beberapa tetangga saya, kalau munggahan yang dimasak jadi sangat banyak. Kalau dari teman YPBB, itu supaya puasanya semangat. Budaya kita berbelanja! Dari YPBB mencoba menerapkan zero waste office. Dari pola belanja, masak, dan menjelang lebaran jadi banyak yang bisa kita kurangi. Ada ga yang lebaran ga belanja baju?

Listi : kalau di rumah aku, gelas air mineral masih merajalela. Kalau di rumah sudah mencoba memisahkan sampah. Tapi yang sulit adalah gelas plastik. Tapi alasannya masih “Kamu mau nyuci?”

Ardhy Bdgberkebun : fenomenanya lebaran memang agak susah dihindari. Karena air minum dalam kemasan sudah ada keranjangnya. Karena ada kesan estetik. Di kegiatan masjid, sempat ada usulan membeli dus-dusan air minum. Tetapi orang tua mengusulkan membeli gelas. Tetapi pendekatan alasannya bukan soal sampahnya, tetapi dengan gelas bisa digunakan  untuk kopi, teh, dan jenis-jenis lain. Karena kebetulan ada mahasiswa, gelas-gelas plastik yang ada bisa dikumpulkan dan digunakan di lain waktu.

Kang Cuham : Ibu saya selalu menyediakan piring dan gelas, sampai meminjam ke tetangga. Karena budaya malas mencuci piring.

Guli : Fenomena air minum kemasan sepertinya baru 10 tahun belakang ini. Pada zaman dahulu juga saya juga masih meminjam tetangga, tetapi setelah itu dicuci bareng-bareng

Shelly : untuk membuat parcel, biasanya sengaja membeli plastik yang bertuliskan. Sebaiknya berikan alternatif dengan kantong kardus. Atau membagi-bagi kurma dengan plastik dan diberi steples. Atau di rumah yang menyediakan permen di salah satu suguhan.

Rahyang : untuk di rumah yang malas masak,beli makanan kemasan

Listi : operasi plastik untuk di setiap acara keluarga, untuk membungkus makanan yang sisa. Kebiasaan seperti ini adalah fenomena sosial. Orang menjadi lebih individualis

Melly : bagaimana teman-teman membeli takjil? Karena biasanya orang menjualnya udah dalam kemasan kecil-kecil.

Shelly : kita yang membiasakan bawa tempat makan sendiri ketika operasi plastik. Ketika kita memilih takjil, harus pintar memilih tukang dagang. Produsen akan tergantung dengan konsumen. Jika celetukan sedikit, tukang dagang akan menanggapi. Praktek mulai dari kitanya sendiri, dan produsen akan tertular. Begitu juga untuk menularkan ke teman-teman sendiri.

Melly : kita bisa bawa wadah sendiri dan samperin ke baskomnya langsung.

Guli : kalau di lingkungan rumah mungkin bisa. Kalau di pinggir jalan, akan ribet ketika harus mewadahi dari rumah. Karena akan sibuk dengan urusan jual beli sambil mewadahi.

Azhari Bdgberkebun : pas 40 harian dan 5 bulanan kelahiran. Ketika disediakan air minum dalam kemasan lebih senang dibanding air minum dalam gelas karena lebih jijik.

Guli : hal ini terjadi juga untuk pertemuan sebelumnya. Kami menyediakan gelas plastik dan gelas YPBB, dan orang-orang cenderung menggunakan gelas plastik karena terlihat lebih baru.

Cuham : usulan untuk bikin kompetisi “Green love” untuk pasangan bergaya hidup ramah lingkungan.

Saka : saya di studio musik. Hubungannya sama polusi suara. Tiap Ramadhan kami libur untuk mengurangi polusi suara. Yang mau saya tanya untuk polusi rokok. Bagaimana buka puasa tidak merokok sebelum takjil?

Anas : kan kita emang masalah utamanya karena AMDK lebih praktis. Dan kita cenderung tidak mau mencuci. Ide bisnis : membuat jasa peminjaman gelas dan mencuci. Bagaimana kalau membuat perkumpulan untuk peminjaman peralatan makan dan mencuci. Bisa menjadi sebuah gerakan yang menarik volunteer.

Unang : kalau untuk zaman sekarang dikhawatirkan untuk kesulitan membayar service. Mending beli aja daripada bayarnya.

Windi : mau minta masukan. Kalau keluarga saya waktu Ramadhan suka banget jajan. Kalau di rumah sudah masak, masih suka jajan. Paling susah mempengaruhi orang tua sendiri.

Tian : Coba bawa wadah sendiri. Kemudian pilih tukang jajanan yang tidak menggunakan wadah yang tidak berbahaya.

Listi : bahasan menularkan ke keluarga bisa menjadi topik sendiri. Kalau aku sejak kecil sudah menjadi kebiasaan keluarga aku. Masuk ke ibu untuk mengeluarkan kebiasaan. Kemudian masuk ke bibi. Untuk sejauh ini kondisi keluargaku.ibu-ibu lebih mudah bergerak lewat ibu-ibu PKK.

Rahyang : biasanya penerapan ke anaknya gimana?

Melly : jajanan warung saya hindari. Saya cari toko yang bisa jual kiloan. Bawa wadahnya. Tetapi wadahnya perlu ditimbang dulu dan lebih repot. Jadi perlu antri belakangan. Kadang plastiknya suka saya pakai ulang, atau saya balikin ke ibu warung. Itu masih diterima kok. YPBB mencatat sampah-sampah yang berharga jual. Kalau hasil riset sudah selesai, bisa dishare.

Rani : ide untuk membagi kontak katering dan restoran yang telah melakukan bentuk zero waste.

Komitmen pribadi :

–          Guli : saya bisa mengurangi dengan membawa tempat makan dan minum sendiri.

–          Rani : coba pake wadah sendiri. Dan kasih usulan untuk wadah danus

–          Windi : coba pake wadah sendiri. Meyakinkan keluarga untuk pake gelas sendiri

–          Anas : mengurangi makan, mengurangi sampah dan konsumsi. Selain itu juga sehat untuk tubuh

–          Ines : makan di tempatnya dan bawa tempat makan

–          Tian : Pengen bikin peta tempat-tempat makan yang zero waste

–          Melly : cari takjil yang zero waste

–          Widi : untuk lebaran masih menutup mata

–          Mengurangi acara buka bareng

–          Mengurangi makanan bungkus

–          Banyakin buka di rumah

–          Masak sendiri

–          Buat kue kering sendiri

–          Lebih giat lagi mencari takjil gratis

–          Gowes ke mana pun

–          Puasa nyampah

–          Merelakan diri jadi tempat cuci piring pas lebaran

–          Coba kebiasaan di komunitas

Informasi kegiatan :

Agung Setiawan Unpad :

Tugas akhir mengenai Green Marketing Hi-Lo. Apakah dari sisi marketing saja atau bagaimana? Nanti akan disebar kuesionernya.

Kang Cuham : sedang mengadakan pelatihan dasar bagi goweser yang mau membetulkan sepeda sendiri. Minggu sore jam 4 di Pelajar pejuang. Mohon doa untuk novel cerita dunia persepedahan dan lingkungan.

Melly : tanggal 5 agustus YPBB ada buka bareng launching buku dan markinon (mari kita nonton).

Tawaran :

Akan ada seleksi dan training dari WEL Facilitator School, lembaga pendidikan dan pelatihan fasilitator pengembangan sikap mental dan karakter, berbasis pendekatan
“persuasive” dan “experiental learning”. Persyaratan:

  1. Senang mengembangkan diri dan orang lain
  2. Mahasiswa/i
  3. Usia maksimum 25 tahun
  4. Siap mengikuti proses seleksi dan pelatihan

Proses seleksi dilaksanakan pada 18 – 23 Juli 2012 pukul 10.00 – 15.00

Informasi dan pendaftaran : Jl. Masjid At-Taqwa No.1 KPAD Gerlong Bandung. Cp Rikrik Telp. 0857-2032-1872. http://www.wel-training.com

Rahyang : bikin buku isinya tentang kehidupan relawan. Akan saya share link kuesionernya.

Sano : FHB harus lebih memberi efek karena sudah memasukin tahun ke 4. FHB harusnya bisa menjadi pusat akses informasi. Mudah-mudahan FHB bisa menjadi portal untuk pertanyaan lingkungan. Mari kita berpikir untuk lebih memberi impact. Dengan kas yang tidak sedikit dan tidak juga banyak, mudah-mudahan bisa memfasilitasi website yang bisa diakses banyak orang.

Listi : kita perlu pemetaan potensi. Ada ide dari kang arif : bagaimana kalau beberapa komunitas di bandung punya video, yang bisa dipasang di sarana publik seperti bandara, bis, dll. Dibagi per beberapa detik untuk beberapa video. Ternyata ga semua masyarakat tahu bahwa ada yang peduli dengan berbagai macam fokus. Sedangkan informasi ini akan sangat mengena ke masyarakat. Kalau belum bisa ke sarana publik, bisa dibagikan ke tiap kampung/RW.