Pertemuan FHB – Januari 2014 | Potret PLH di Sekolah

Pertemuan Januari 2014
Kondisi lingkungan hidup di Bandung saat ini tidak lepas dari peran sekolah dalam mencetak siswa yang berwawasan lingkungan. Saat ini banyak sekolah baik SD, SMP, SMA baik negeri maupun swasta yang memiliki predikat sekolah berbudaya lingkungan (SBL).

Virus SBL inilah yang kemudian akan disebarkan ke sekolah-sekolah lainnya melalui Pendidikan Lingkungan Hidup yang diajarkan. Beredarnya isu dengan diterapkannya penerapan Kurikulum 2013 akan berdampak terhadap hilangnya mata pelajaran mulok yang didalamnya terdapat Pendidikan Lingkungan Hidup sempat menjadi kekhawatiran warga sekolah, khususnya para guru.

Lalu Bagaimanakah para guru menyikapi hal tersebut?? 
Ingin tahu bagaimana PLH diimplementasikan di sekolah-sekolah dalam membentuk generasi yang ramah lingkungan?
Bagaimana tips mengintegrasikan PLH dengan mata pelajaran lain??

Yuk kita datang rame-rame ke pertemuan FHB bulan Januari dengan Tema “Potret PLH di Sekolah”. Pertemuan ini akan mengundang beberapa guru PLH untuk berbagi pengalamannya di sekolah kota Bandung,

CP: Priyo Sulistiono (081 296 138 236)

Sabtu, 18 januari 2014 jam 15.30 di jl. Sadang Tengah No. 1-3 Bandung
Host: Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat (LPTT)

Iklan

Pertemuan FHB – November 2013 | Back to 80’s

Jumat, 29 November 2013 jam 15.30 di Jl. RE Martadinata No. 189A Bandung

Host by DPKLTS

Apakah pernah mendengar nama ‘Katepe Tekab‘ !?

Para penggiat lingkungan di Bandung hari ini pasti tidak banyak yang mengetahui apa itu Katepe Tekab yang merupakan singkatan dari “Kerja Tanam Pohon Tanah Kosong sekitar Bandung”. Katepe Tekab adalah suatu aliansi dari beberapa LSM di Bandung yang terbentuk pada tahun 1983 yang bertujuan untuk melakukan penghijauan di wilayah Bandung.

Ingin tau lebih jauh tentang Katepe Tekab dan upaya-upaya lain yang telah dilakukan oleh penggiat lingkungan tahun 80an untuk membenahi Bandung dari permasalahan lingkungan..?? Ingin juga tau lesson learn apa yang bisa diterapkan oleh gerakan lingkungan masa kini di Bandung..?? Ya.. jawabnya ada pada Pertemuan Forum Hijau Bandung bulan November 2013 yang akan membawa kita pada hiruk pikuk suasana gerakan lingkungan “jadul” di Bandung tahun 80an yang akan disampaikan oleh Sentanu HindrakusumaDenni Hamdani dan para penggiat 80an yang lain.

1460193_10151902631693183_488355066_n

Pertemuan Silahturahmi 2009-2013

Poster Silahturahmi 16 September 2013

Sampurasun!

Turut mengundang para partisipan Forum Hijau Bandung (FHB) 2009 – 2013, untuk hadir dalam pertemuan silahturahmi 5 tahun FHB. Pertemuan akan dilaksanakan pada:

Tempat: Kantor Yayasan Pengembangan Biosains & Bioteknologi, Jl. Sidomulyo 21.
Hari, Tanggal: Senin, 16 September 2013
Waktu: pukul 18.00 – selesai

Konfirmasi kehadiran > http://www.facebook.com/events/293243764151549/

Hatur nuhun 🙂

[Notulensi] Pertemuan #2 FHB 12/13: Green Economy

20 Juni 2012

Museum Asia Afrika

Narasumber : Dr. Achmad Sjarmidi, B. Sc., Ph.D

Dr. Arief Anshory Yusuf, S.E., M.Sc.

Tema green economy diambil dari tema Hari Lingkungan Hidup 2012.

Pak Arief  : Green economy muncul pertama 2 tahun lalu mulai bergema. UNEP yang membuat laporan mengenai green economy. Ada 3 hal dari green economy :

  1. Ekonomi rendah karbon. Gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh industri dengan bahan bakar fosil. Gas ini adalah gas rumah kaca yang menghasilkan pemanasan global. Green economy adalah yang tidak menghasilkan karbon.
  2. Resource efficient. Yaitu sumber daya alam, seperti air, hutan, angin, dll. Ekonomi hijau adalah yang efisien penggunaan SDAnya.
  3. Social inklusif, ekonomi yang berpihak pada orang kebanyakan. Data statistik kita bilang penghasilan orang Indonesia per kepala tahun 2011 berdasarkan BPS adalah 10 juta/bulan tiap keluarga. Tetapi sangat timpang. Total dibagi 50 juta.

Dalam ekonomi ada cara untuk menghitung berapa sda yang digunakan untuk aktivitas ekonomi per sejuta rupiah. Ironisnya 15% dari GDP Indonesia digunakan melalui likuidasi aset alam. (kita beli combro dengan emas yang ada di ibu kita, bukan kita beli dengan hasil penjualan emas).

Social inklusif. Pemerintah sering bilang kemiskinan kita turun terus. Saya termasuk minority yang tidak percaya. Berapa persen orang Indonesia yang isi dompetnya kurang dari 10 ribu? Ternyata 50%, 110 juta. Setara dengan Cameroon, pantai gading Afrika. Cina sudah 30%. Banyak yang membanggakan Indonesia menengah.

Ekonomi kita semakin timpang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Mengapa kita gagal menjalani ekonomi hijau?

  1. Kita tidak pandai berhitung. Setiap keputusan ekonomi yang dilakukan pasti mementingkan untung atau tidak. Contoh di Thailang. Di pantai ada hutan bakau. Lalu ditanyakan mau jadi bakau atau tambak udang. Ternyata kalau jadi tambak udang tiap hektarnya, keuntungan 9600 dolar/bulan. Kalau bakau Cuma 584 dolar/hektar/tahun. Ternyata di Thailand kalau kita punya tambak udang akan disubsidi. Kalau subsidi dihilangkan, itu bukan keuntungan. Kalau dikurangi subsidi jadi 1220. Kalau hutan mangrove yang dihilangkan, nelayan yang mengambil ikan akan kehilangan 987 dolar per tahun. Maka mulai kelihatan mana yang lebih baik. Tambak udang akan rusak dalam beberapa tahun yang perlu direstorasi. Ada nilai-nilai yang perlu diperhitungkan jika hutan bakau hilang dan tidak ada yang mencegah bencana. Keputusan-keputusan seperti ini tidak sejalan dengan orang bisnis. Ini hampir terjadi di hampir semua hal. Sering terjadi karena angka-angka ini tidak kasat mata. Bagaimana caranya? Harus pandai berhitung dan mula komprehensif dalam nilai-nilai aset-aset
  2. Kita kurang peduli pada hari esok. Cina adalah champion dalam green economy. Di cina, 60-75% energi terbarukan diproduksi oleh mereka. Kenapa bisa begitu? Karena pemerintahan di sana itu-itu lagi, jadi perencanaannya jauh ke depan. Basis ekonomi di Indonesia dan Cina sama-sama pasar. Tapi kalau Indonesia basis politiknya juga pasar. Tidak berpikir jangka panjang.

Unang : sejauh mana pengaplikasian green economy di Indonesia? Jangan-jangan untuk promosi saja?

Achmad Sjarmidi : Orang Indonesia suka lupa sejarah. Green economy adalah mistikfikasi baru yang makin kabur. “Limit to grows”. Secara sosial manusia tidak ada batasnya, sedangkan SDA ada batasnya. Tahun 82 Only one earth : lebih acak. Tahun 92, muncul “Our sustainable future”. Tahun 2002 “Taking nature into account”. Bagaimana mengukur alam dengan ilmu ekonomi? Sekarang “The future be won”kembali ke masalah suka-suka saja. Dan semua yang bikin konsepnya adalah UNEP. Negara yang memakai konsep UNEP tidak ada yang berhasil. Coba intrepretasi dulu. Karena kita suka dengan dogma-dogma. Bukan green economy seperti prospek, tetapi seperti sinetron. Tidak terukur. Konsep ini sebetulnya tidak mampu diturunkan dan diinterpretasi. UU lingkungan hidup tahun 2003 tidak ada dasar etika lingkungan. Kalau dulu dasarnya lingkungan adalah karunia Tuhan, sekarang lingkungan adalah hak semua orang. Lalu ke mana kita mau bersandar sekarang? Kalau kita tidak menginterpretasikan, lebih baik jangan dilakukan. Kalau ditanya apa itu Green Economy, semakin abstrak. Saya sendiri masih bingung kenapa ada yang masih mau diskusi tentang ini. Di Indonesia, kementrian yang harus ditutup adalah KLH dan Kehutanan. Karena dari tahun ke tahun hasilnya turun terus. Isinya hanya kirim delegasi ke mana-mana. Karena Indonesia tidak berani membuat konsep sendiri. Di ranah teori, ekonomi dan ekologi sudah sejalan. Tetapi sehari-hari susah. Selama Indonesia masih mimpi sama industri, pasti disparitasi. Kalau orang ekonomi ga pake industri ga mungkin. Kalau ngomongin ekonomi, urusan tidak ada yang selesai.

Yoga : opini. Agak aneh mendengar kalau undang-undang tidak ada etika lingkungannya. Padahal jelas ada filsafatnya. Itu adalah sebuah produk. Ada fase masyarakat Indonesia itu teosentris. Ketika lingkungan hidup menjadi hak semua orang, menjadi fase antroposentris. Kalau jadi hak semua orang, jadi kapitalisme. Ujung2nya kita mengobyekan alam. Dengan green economy, saya tidak menganggapnya wah. Kenapa kita tidak menggali green yang lain, bagaimana kita memperlakukan alam. Bukan soal konsep, tetapi pemikir juga seorang aktivis. Ada kesenjangan juga pada tataran pemikir. Idealisme dan realisme. Yang saya tunggu-tunggu sebenarnya bagaimana kita bicara lokalitas. Kalau mau Indonesia maju, desanya yang berdaulat.

Tambahan : Green revolution yang gagal di Indonesia.

Achmad : Masalah isu hak asasi dan demokrasi. Padahal kalau kita mau belajar, nggak perlu jauh-jauh. Pergilah ke suku Baduy, Kampung Naga, Ciamis. Ketika saya melihat orang Jerman, pergi ke Baduy, padahal sebenarnya kita bisa belajar soal ekonomi hijau ya di daerah itu. Karena konsep kesinambungan ada di sana. Kita bisa belajar dari local wisdom. Di sana ada soal kekuasaan, kesejahteraan. Tidak ada kelaparan.

Kalau 100% lingkungan, kita nggak makan. Begitupula kalau ekonomi. Maka tidak usah didikotomikan. Perlu saya akui di kampus saya, mahasiswa yang mengambil ilmu ekonomi lingkungan saja sedikit. Kita harus seimbang. Bukan tidak mungkin kita bisa membuat sistem yang baik. Yang selalu menyalahkan ekonomi, ekonomi yang mana? Ekonomi hijau, kita lihat saja substansinya. Kalau tidak sesuai dengan budaya kita, tidak usah. Kebetulan saya sering diskusi dengan teman dari PLH, yang sering akrtif diskusi di ranah internasional. Dia kekeuh bahwa ekonomi hijau punya definisi masing-masing per negara. Maka kita juga punya ruang sendiri-sendiri. Banyak yang pesimis. Dulu orang pesimis bahwa wanita tidak bisa ikut pemilu, nyatanya bisa. Maka untuk yang muda jangan banyak pesimis.

Penanya : Green economy untuk Indonesia :

  1. Pencemaran air oleh limbah pabrik
  2. Pencemaran udara
  3. Pestisida
  4. Sampah. Kalau dibakar otomatis menambah polusi udara. Kalau dengan bio gas saya setuju. Tapi kalau dengan insinerator, saya kurang setuju.
  5. Ozon. Pemakaian CFC, harus ditiadakan. Ujung-ujungnya pemanasan global.
  6. Penggundulan hutan

Saya mau mengkritik Al-Gore. Yang paling menyakitkan, Indonesia tidak pernah… kalau di Jepang diceritakan tentang bencana macam-macam. Kenapa Al gore menyepelekan Indonesia? Padahal Freeport ada di Indonesia. Orang Indonesia yang bicara tentang green economy harusnya memboikot. Luasnya Indonesia tidak diakui. Kalau bicara tentang green economy, ada pertanyaan yang ahli lingkungan hidup tidak bisa jawab. Kenapa kalau pemerintah yang menebang pohon tidak ditindak? Kalau pohon caringin dibabat, berapa oksigen yang hilang? Harus ada konferensi besar-besaran di Indonesia. Perlu diperhitungkan secara ekonomi.

Hal ini berkaitan dengan persoalan kita yang tidak pandai menghitung. Karena kita mau industri. Semua masalah ini berawal dari revolusi industri. Karena kita mau modern, masal, kasih kesempatan orang-orang yang tidak mengerti. Padahal sebenarnya konsepnya sudah ada dari beratus tahun yang lalu. Tetapi karena kita mau modern, maka konsep itu tidak dipakai. Kenapa konsep yang disetujui di seluruh dunia ini tidak bisa diimplementasikan di Indonesia?

Arif : kita terkenal konsumtif.  Barang-barang yang kita beli seperti BB, laptop, dan lainnya justru malah membuka perkerjaan untuk orang-orang China. Bahkan pada zaman ericsson mau meluncurkan produk, dipilih tempat di Jakarta sebagai tempat launching pertama. Ini adalah salah satu bentuk perilaku kita yang tidak memikirkan hari esok.

Green ini apakah benar atau lifestyle? Maka ini ditawarkan sebagai lifestyle baru. Saya bicara UU karena kecenderungan kebingungan. Maka disebutkan hak semua orang agar mengurus masing-masing.

Kesimpulan : konsep green economy dari UNEP masih terlalu global. Maka harus diidefinisikan oleh masing-masing negara, bahkan per daerah.

Sahabat Walhi Jabar: Satu Hari Tanpa Tas Plastik

Dalam rangka Plastic Bag Free Day yang jatuh pada tanggal 3 Juli, Sahabat Walhi Jabar melakukan “Kresek police” di Babakan Siliwangi. Bagi teman-teman partisipan FHB yang memiliki reusable bag berlebih dan tidak terpakai, Sahabat Walhi Jabar menerima sumbangan dimana nantinya akan dibagikan lagi kepada pengunjung. Hubungi langsung ke Kantor Walhi Jabar di Jalan Piit No.5, Bandung.Acara ini juga merupakan rangkaian HelarFest 2012 dalam pre-event Lightchestra.

Selamat Hari Bebas Plastik Sedunia!

Image

[Agenda] Pertemuan #3 FHB 12/13: Piknik!

Halo, sahabat hijau! Bagaimana kabarmu hari ini? Anyway, kita akan mengumumkan pertemuan bulan Juli ini lho! Beda dari biasanya, bulan ini kita akan piknik! Yeaaaay, piknik dengan tema Menuju Ramadhan Hijau. Piknik akan dilakukan di Taman Ganesha pada tanggal 17 Juli 2012 pukul 15.00 WIB! So, what are you guys waiting for? Save the date and join us!

 

-Informasi selanjutnya akan diberitahukan satu minggu sebelum piknik dimulai-

[Agenda] Pertemuan #2 FHB 12/13 Green Economy: Does it include you?

UNEP telah mengembangkan definisi kerja ekonomi hijau sebagai salah satu yang menghasilkan ekuitas kesejahteraan dan sosial baik manusia, sedangkan secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis. Dalam ekspresi yang paling sederhana, ekonomi hijau dapat dianggap sebagai salah satu yang rendah karbon, sumber daya yang efisien dan inklusif secara sosial.

Praktis berbicara, ekonomi hijau adalah salah satu yang pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerja didorong oleh investasi publik dan swasta yang mengurangi emisi karbon dan polusi, meningkatkan energi dan efisiensi sumber daya, dan mencegah hilangnya keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem. Investasi ini harus dikatalisasi dan didukung oleh ditargetkan publik, reformasi kebijakan pengeluaran dan perubahan regulasi. Ini jalur pembangunan harus memelihara, meningkatkan dan jika perlu, membangun kembali modal alam sebagai aset ekonomi penting dan sumber manfaat publik, khususnya bagi masyarakat miskin yang mata pencahariannya dan keamanan sangat bergantung pada alam (Sumber: http://www.unep.org/greeneconomy/)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni lalu, FHB akan mengadakan pertemuan rutin bulanan yang akan dilaksanakan pada Rabu, 20 Juni 2012 bertempat di Ruang Audio Visual, Museum Konperensi Asia Afrika.

Tema yang akan diangkat pada pertemuan ini adalah “Green Economy: Does it include you?” yang merupakan tema Hari Lingkungan Hidup tahun ini. Kita akan sama-sama mengutarakan pendapat mengenai topik ini baik dari sudut pandang akademisi dan juga pegiat lingkungan, terutama partisipan FHB. Jadi, jangan lewatkan kesempatan ini. datang, ajak teman, keluarga, dan siapapun untuk berbagi ide dan pendapat mengenai Green Economy!

Waktu Acara Durasi
16.30 – 16.45 Pembukaan

Perkenalan Partisipan

15 menit
16.45 – 17.30 Tadarusan Buku 45 menit
17.30 – 17.50 Pengumuman kegiatan komunitas

Sosialisasi “bike bdg”

Oleh Agam

Sosialisasi buku Gowes

Oleh Kang Cuham

20 menit
17.50 – 18.15 Istirahat sholat 25 menit
18.15 – 18.45 Pemaparan tentang green economy 30 menit
18.45 – 19.15 Diskusi 30 menit
19.15 – 19.30 Penutupan 15 menit

Event Facebook: http://www.facebook.com/events/440969872593744/?context=create

Reach us:
w | http://www.forumhijaubandung.wordpress.comt | @ForumHijauBDGf | Forum Hijau Bandung