Hasil Pertemuan Silahturahim 16 September 2013

Keputusan kelanjutan FHB:

1) Format FHB disesuaikan dengan bentuk pertemuan bergilir di komunitas organisasi yang bersedia jadi host.

Terdata sampai saat ini:
Walhi: Oktober – PJ: Ogie
Dewan Pemerhati Kehutanan Lingkungan Tatar Sunda: November – PJ: Taufan
Lembaga Penerapan Teknologi Tepat: Desember – PJ: Priyo
Bike Bdg: Januari – PJ: Aso
Earth Hour Bandung: Februari – PJ: Tian
Greeneration Indonesia: Maret – PJ: Sano

2) FHB tidak menggunakan sistem manajemen lagi (bergantung kepada inisiatif lembaga masing-masing).

3) Pola pertemuan: dibuat setiap minggu ke empat (hari dan tanggal ditentukan oleh organisasi pengundang)

4) Grup Facebook dan Twitter ditutup 1 minggu dari sekarang (23 September). WordPress akan tetap dijalankan dgn moderatornya Tian (fungsinya untuk publikasi pertemuan rutin FHB yang dikelola oleh komunitas)

5) Aset uang akan didonasikan seluruhnya kepada program tanam wanadri pada tanggal 21 November.
Hal ini diputuskan berdasarkan hasil poling dari tiga opsi:
1) tanam ke wanadri (12 suara)
2) modal untuk peralatan bersama yang bisa dipinjamkan (11 suara)
3) untuk biaya konsumsi pertemuan rutin (2 suara)

971289_10201519525422931_1236361540_n

REKOMENDASI WORKING GROUP FHB 2013

Sampurasun! Rekan-rekan partisipan FHB, berikut adalah rekomendasi working group terkait keberadaan FHB:

Melihat dan menimbang:

  1. Proses diskusi yang panjang tentang keberlanjutan dari FHB (yang telah diresumekan di https://www.facebook.com/notes/manajemen-fhb/rangkuman-proses-fhb-2013/481845491908767).
  2. Proses rekruitmen yang dilakukan tim working group untuk mencari “Tim Manajemen 2013-2014: Perwakilan Lembaga” dari tanggal 23-28 Juli yang kemudian diperpanjang hingga tanggal 3 Agustus 2013. Proses ini dilakukan melalui:

Hasilnya:

  1. Yang bersedia mengajukan diri menjadi manajemen 4 organisasi (14,3%);
  2. Yang tidak bersedia menjadi manajemen 3 organisasi (10,7%); dan
  3. Yang tidak ada respon 21 organisasi (75%).

Kami merekomendasikan:

FORUM HIJAU BANDUNG dibubarkan hingga ada pihak-pihak atau partisipan yang ingin menghidupkan kembali dengan memenuhi persyaratan yang ada: “Tim Manajemen terdiri dari perwakilan 5 lembaga di Bandung”.

Rekomendasi ini berlaku selama 1 bulan sejak dikeluarkan, bila tidak ada tindak lanjut dari partisipan selama waktu tersebut, maka working group akan:

  1. Memanfaatkan dana FHB senilai Rp 6.336.200,- untuk penanaman pohon asuh melalui WANADRI >> http://kareumbi.wordpress.com/program/konservasi/. Sebagai bentuk sumbangsih nyata FHB terhadap pelestarian lingkungan.
  2. Memberikan asset piring lidi sebanyak 137 buah kepada organisasi yang bersedia menampung dan menjalankan fungsi simpan pinjam piring antar organisasi sesuai tujuan awal FHB memiliki piring lidi tersebut.
  3. Menutup semua akun media sosial berupa Facebook dan Twitter untuk menghindari adanya penyalahgunaan fungsi.
  4. Me-non-aktifkan kop surat dan stempel FHB.
  5. Tetap mengaktifkan wordpress sebagai bagian dari sejarah FHB dengan metode “no comment”.

Demikian rekomendasi dari working group yang diberikan kewenangan untuk menentukan keberlanjutan FHB sejak selesainya masa tugas manajemen FHB 2012-2013. Segala upaya untuk melanjutkan FHB dengan visi: “FHB adalah sebuah wadah silahturahmi dengan aturan dan manajemen yang disepakati, bersifat terbuka untuk umum, dalam memfasilitasi upaya berbagai pemangku kepentingan untuk pelestarian lingkungan kota Bandung”, telah dilakukan. Semoga kita semua mendapatkan manfaat dan pembelajaran yang baik dari perjalanan FHB selama ini. Mari meyakinkan diri bahwa visi dari FHB akan tetap hidup dalam diri & organisasi masing-masing melalui cara yang lebih kreatif dan produktif.

Terima kasih.

Salam,
Working Group FHB 2013
Anil-Rezal-Rizky-Sano-Tian

[Notulensi] Pertemuan #4 FHB 2012/2013 : Peta Hijau

Halo, warga-wargi Bandung! Minggu lalu baru saja dilakukan pertemuan rutin FHB. Pertemuan kali ini kita bahas mengenai Peta Hijau, Ada yang ketinggalan gak ikutan? Berikut notulensinya.

Dodi : Peta Hijau Jogja. Awalnya teteh di Jogja dapet inspirasi waktu main ke Jogja, bermain ke kebun binatang. Berpikir bagaimana bisa peka terhadap lingkungan. Bagaimana pendatang bisa lebih tahu lingkungannya. Tujuannya bukan dari segi ekologis saja, tapi dari yang ada bisa berbuat apa ya? (membagikan contoh peta hijau). Lingkup peta hijau bisa bermacam-macam.

Icon di peta hijau ada banyak. Untuk proses peta hijau persampahan ada Tian dan Teh Anil, sampai hanya muncul 8 ikon. Dari sini disepakati kelompok kerja, tujuannya apa. Setelah itu tentukan batasan dan tujuan. Lokasi apa saja yang akan kita petakan. Kedalaman seperti apa yang akan dipetakan. Misalnya di persampahan, isu tempat pembuangan sampah sementara. Yang seperti apa? Pemetaan juga dilakukan dengan wawancara ke stakeholder yang berkaitan dengan lokasi tersebut. Deskripsi nyaman dan aman dari stakeholder bisa berbeda ketika didatangi tempatnya. Nanti ada diskusi lebih lanjut. Lalu masuk ke proses desain. Peta akan ada pembaharuan tiap edisi

Lalu mulai ada pertemuan nasional di Bandung. Sekarang di FHB ini adalah salah satu momen untuk mengumpulkan ide peta hijau di Bandung mau seperti apa?

Tian: tentang peta hijau persampahan, hanya diambil wilayah Cibeunying, Bandung Utara. Dimulai dari 2010, dan 2011 seluruh kota Bandung sudah terpetakan. (cerita soal tugas akhir). Merasa bahwa metode peta hijau praktis dan efektif. Kenapa “hijau?” karena hubungannya dengan alam. Tidak semua ikon berhubungan dengan lingkungan. Green map bukan sekedar produk, tetapi adalah interaksi. Kita mencari volunteer yang punya visi misi sama untuk membentuk peta hijau. Kita harus terjun langsung ke masyarakat untuk lihat keadaan sebenarnya. Harusnya ada 6 peta, tetapi karena keterbatasan dana, hanya dicetak satu. Sisanya bisa diakses di web dan diserahkan ke pemkot Bandung. Lingkup tidak masalah. Saya sendiri kaget ketika memetakan di Kota Bandung, ternyata ada 121 tempat pengolahan sampah yang berpotensi untuk diketahui dan dibina pemerintah. Tetapi hingga saat ini permasalahan sampah di Bandung Utara belum selesai.

Dodi : KSK juga menggunakan metode peta hijau. Pertama kali saya mendapat info tentang peta hijau adalah dari KSK. Misalnya di lingkungan sekolah ada apa ya? Kalau dari perspektif anak-anak juga menarik untuk membuat peta hijau sendiri. Di Bandung ini cukup banyak komunitas yang memakai metode peta hijau.

Dodi : masyarakat yang sudah mengenal peta hijau masih relatif sedikit, salah satu caranya dengan car free day. Peta hijau Jogja termasuk sangat aktif dalam memetakan dan sudah cukup dikenal masyarakat.

Tian : harapan ketika membuat pertama kali, saya punya mimpi. Di Bandung banyak komunitas yang unik. Harapannya tiap komunitas punya peta hijau dengan kegiatan uniknya itu. Misalnya aleut punya peta tentang museum-museum. Peta itu yang bisa diakses banyak orang dan tidak nyasar. Tapi perlu konsistensi. Apalagi basisnya relawan. Saya pun mungkin kalau tidak dikejar TA, tidak selesai. Karena basisnya masih kerelawanan, masih sulit dalam SDA. Untuk sosialisasi dan pengembangannya pun butuh sumber daya manusia. Yang konsistensinya besar adalah Jakarta. Ada peta hijau transportasi, danau, dll.

Dodi : Yang mirip-mirip, pernah baca buku T. Bakhtiar, bagaimana caranya dengan membuat jalur untuk mempromosikan mengenal alamnya.

Windi : Kan sudah ada peta hijau Bandung dan Jakarta, bagaimana kalau mau bikin peta hijau di kampung halaman?

Dodi : Dari jejaring green map system, harus registrasi ke New York. Nanti jika kita mau registrasi, akan di re-check apakah di tempat yang bersangkutan sudah ada atau belum. Nanti akan dilihat juga negaranya apakah punya dana atau tidak, dengan sebelumnya memberikan datanya lebih dahulu.

Arif : Nanti akan share ke teman-teman di Unpad untuk Peta Hijau di Jatinangor. Di Jatinangor ada tumpukan sampah di depan kampus. Apakah peta hijau juga ada tujuan untuk menyelesaikan permasalahan sampah?

Tian : sangat ada, tujuan jangka panjang. Terutama untuk pengguna peta hijaunya sendiri dari tempat-tempat yang teridentifikasikan di peta. Kita masih kesulitan untuk mensosialisasikan ke banyak orang, hanya untuk golongan tertentu.

Dodi : sebenarnya nanti tujuannya untuk teman-teman mengontak lokasi yang diperlukan sendiri.

Arif : partisipasi ke pemerintah sudah sejauh mana?

Tian : sudah banget. Hasil peta kita langsung ke BPLHD, pemerintah kota Bandung, harapannya ingin dimasukkan dalam sistem.

Cuham : apakah sudah dikomersilkan?

Dodi : hanya fokus di arah produksi. Bisa juga dibukukan. Teman-teman di Jogja bikin peta hijau di borobudur dan sangat mendalam. Tergantung timnya.

Ahmad Garuda Food : saya bertanya dari sisi perindustrian. Bagaimana kalau limbah barang perindustrian? Bagaimana memetahijaukannya? Contohnya adalah sungai Citarum yang hitam pekat. Jika ada pemetaan air limbah dibuang ke mana, bisa

Tian : peta hijau persampahan masih fokus di persampahan komunal oleh masyarakat. Kalau di Bandung belum tahu. Bisa saja buat peta hijau khusus pengolahan limbah B3.

Dodi : kalau mau membuat, ditajamkan dulu tujuannya.

Kertas yang ada, teman-teman tolong isi : kira-kira untuk Peta Hijau Bandung mau tentang apa, sasarannya apa?

Ide peta hijau Bandung :

  1. Peta hijau wisata alternatif outbond
  2. Upgrade peta hijau persampahan awal dengan SDM yang dipenuhi SDM. Perlu mikirin skema sosialisasinya, harus dipegang orang yang mengerti sampah. Cari tim yang dekat dengan kegiatan kesehariannya dan benar-benar komitmen. Karena sulit mencari tim baru.
  3. Peta taman kota, berhubung suka main di taman. Fungsinya sosialisasi ruang terbuka hijau. Menyadarkan masyarakat untuk tempat alternatif. Jadi ajang tempat komunitas bertemu. Kabarnya BCCF mau menjadikan taman-taman identik
  4. Peta hijau jajanan zero waste, karena berguna untuk mencari tempat jajan yang zero waste
  5. Peta hijau sekitar sungai karena masyarakat suka buang sampah sembarangan di sungai. Supaya masyarakat lebih menjaga sungai.
  6. Peta jalur mitigasi bencana, berhubung Bandung adalah cekungan. Terutama di daerah pusat dataran Bandung.
  7. Peta hijau jalur bersepeda
  8. Peta hijau yang lebih fokus, misalnya yang fokusnya di lingkungan
  9. Peta ruang terbuka hijau
  10. Peta sektor komersil yang ber logo eco, jadi ketika melihatnya bisa terinspirasi
  11. Peta hijau yang lebih informatif dan dilengkapi profil singkatnya
  12. Peta dibuat oleh orang-orang yang memang suka ke sana
  13. Peta hijau komunitas hijau
  14. Peta hijau komunitas, tujuannya untuk pelajar agar bisa berkegiatan dan bermanfaat, mengurangi nongkrong-nongkrong.
  15. Peta hijau Cikapundung, tujuannya agar warganya bisa mengawal warga di pinggir sungai Cikapundung.

Danial : Peta hijau mitigasi sempat tahun lalu ada kerjasama yang melibatkan beberapa peneliti butuh tagline dan perlu tema-tema yang lebih spesifik tiap tahunnya.

Tian : ada program Bapeda Kota Bandung untuk membuat peta hijau taman kota. Mereka mau November ini sudah jadi. Jadi kita putuskan bukan Peta Hijau, tetapi hanya membantu untuk pemetaan taman kota. Ini bisa dijadikan modal untuk pembuatan peta hijau taman kota. Kalau teman-teman berniat untuk kontribusi di peta hijau, bisa gabung di taman kota.

Tian : Jumat jam 4 sore di BPLHD Jabar akan ada pertemuan untuk pemetaan peta taman. Hampir sama dengan konsep peta hijau, tetapi sudah ada 16 taman yang menjadi target dengan beberapa parameter.

Teman-teman aleut juga melakukan pemetaan kuliner dan yang ada hubungannya dengan heritage.

Unang : Keinginan dari tim manajemen, apakah tertarik untuk membuat peta hijau komunitas?

Windi : tertarik untuk menggarap karena akan bermanfaat untuk kepentingan komunitas.

UGID : tertarik

Cuham : insyaAllah

Teh Anil : salah satu yang mendukung peta hijau komunitas adalah mengirimkan profil lembaga ke tim manajemen.

Unang : dari teman-teman tim manajemen punya konsep baru untuk ke depannya. Mudah-mudahan bisa dilakukan di bulan depan. Harapannya bisa menambah keterlibatan teman-teman.

Informasi sebulan ke depan:

HMTL : HMTL Envaganza membuat lomba karya tulis nasional. Sepuluh besar yang hadir akan presentasi. Teman-teman SMA bisa hadir

Tanggal 30 september funbike dari KSI dan Bandung. Di Tegalega ada pameran dari tanggal 27 September 2012.

Ganesha Hijau : mau buat konservasi mata air baksil

Aleut : ada kegiatan pemetaan heritage Bandung tiap hari Minggu.

Green Peace : tanggal 28 ada kampanye tentang isu citarum “right to know day”. Bergerak sama-sama keliling Kota Bandung. Bawa sampling air Citarum terkini. Tanggal 27 GR jam 4 di angkringan Dago.

YPBB : akan pindah kantor ke daerah jalan Sidomulyo, baru menyusun program kerja setahun ke depan.

Peta taman hari Jumat jam 4

UGID : oktober ada kegiatan penghijauan di Gunung Geulis, bisa bantu donasi tanaman. Kegiatan gerakan pahlawan sampah, untuk apresiasi ke pemulung

Teman-teman dari Sekolah Taman, kalau kasih buku bisa dapet bibit tanaman

Perda kantong plastik agar diupdate jika ada yang tahu infonya.

 

 

 

[Notulensi] Pertemuan #3 FHB 12/13: Piknik “Menuju Ramadhan Hijau”

17 Juli 2012

16.00

Taman Ganesha

Sharing cerita dari lebaran hijau

Cuham : Lebaran Hijau tahun lalu. Ada lomba foto lebaran hijau. Foto lebaran hijau saya adalah gowes ke masjid berhasil menjadi runner up. Semoga pada tahun ini bisa menyelenggarakan hal serupa tahun ini.

Shelly : tahun kemarin saya dan teman-teman berkegiatan Bersaling yang mencoba zero waste dengan membagi tempat makan dan minum gratis. Maka dari panitia tidak menyediakan kemasan makanan dan minuman. Tetapi masih banyak evaluasi, misalnya dari sponsor ada 1500 minuman kemasan yang harus dibagikan pada hari itu juga. Kemudian kami mencoba memisahkan sampah. Tetapi masih ada yang tercampur dan masih dalam bentuk kresek besar.

Saya juga lumayan aktif di masjid rumah. Selalu ada acara pesantren kilat yang membawa takjil. Selalu ada sampah dari takjil. Tahun kemarin kami mencoba untuk teman-teman yang ikut pesantren kilat harus membawa tempat makan sendiri untuk mendapatkan takjil. Tetapi masih berkendala untuk minuman kemasan. Kami masih akan mencoba dan bertahap. Karena masih ada kesulitan untuk yang tua dan orang-orang yang masih awam.

Guli : mendengar cerita yang lain, saya punya cerita yang jauh bertolak belakang. Karena tahun kemarin masih di bogor dan berada di lingkungan yang tidak paham lingkungan. Puasa 1 bulan selalu nyampah. Kalau ada saudara dan ada acara buka bareng pasti otomatis ada minuman kemasan, mangkok plastik bahkan styrofoam. Datang ke bandung dan dapat isu lingkungan baru justru setelah lebaran. Dan ternyata isu sampah sebesar itu. Alasan orang-orang pasti sama, yaitu praktis dan biasanya lebih murah.

Unang : pengalaman umum saya di Kuningan. Kalau tahun-tahun dulu, tiap lebaran kita disuguhinya gelas kaca. Tetapi semenjak ada air minum dalam kemasan, kebiasaan tersebut diubah. Alasannya simpel untuk kepraktisan. Kalau di daerah belum sampai isu-isu tentang lingkungan.

Tian : Alasan lebih murah, sebenarnya tidak lebih murah. Tapi lebih praktis emang iya. Kata murah sudah terparadigma : praktis itu murah. Dan selain itu sudah ada berbagai macam merk.

Ada cerita dari teh Anil. Nenek dan keluarganya nggak mau pake gelas karena “Kamu mau cuci gelasnya?”. Ya mau bagaimana lagi? Bukan tuan rumah dan ketika Lebaran masa cuci gelas. Dan ketika solat Ied banyak yang malas bawa alas sajadah, dan membawa koran. Tetapi ada solusinya karena ada yang mengumpulkan sampah koran. Mungkin hal tersebut bisa diaplikasikan untuk air minum dalam kemasan. Bagaimana mengumpulkan kemasan air minum tersebut karena bernilai jual. Saya kalau di rumah mengumpulkan sampah gelas plastik dan mengurusnya sendiri. Saya juga mengumpulkan dan membersihkan gelasnya terlebih dahulu untuk mempermudah pemulung.

Melly : saya mau menanggapi soal air minum dalam kemasan (AMDK). Kadang kita beda kebutuhan menghasilkan sampah antara yang single dan berkeluarga. Apalagi ketika mempunyai anak. Misalnya membeli jajanan anak-anak. Bagaimana ya ketika sudah berumah tangga lebih sulit menerapkan zero waste. Kalau suaminya kompak sangat enak. Kalau lebaran, saya kampungnya di Bekasi. Rumah orang tua ada warung. Semua saudara datang ke rumah. Ada AMDK yang warnanya macam-macam. Hal ini sulit dihindari. Selain itu kondisi air di dekat rumah sudah berkurang. Alternatif praktisnya adalah AMDK. Yang saya lakukan adalah coba untuk diri sendiri.

Dari YPBB kami tahun lalu mencoba lomba lebaran hijau dan tips-tips. Apalagi kalau bulan puasa sulit membedakan antara kebutuhan dan kepentingan. Semua orang jadi konsumtif. Kami mencoba secara rutin menginformasikan ke masyarakat, terutama ke komunitas YPBB. Saya mengamati beberapa tetangga saya, kalau munggahan yang dimasak jadi sangat banyak. Kalau dari teman YPBB, itu supaya puasanya semangat. Budaya kita berbelanja! Dari YPBB mencoba menerapkan zero waste office. Dari pola belanja, masak, dan menjelang lebaran jadi banyak yang bisa kita kurangi. Ada ga yang lebaran ga belanja baju?

Listi : kalau di rumah aku, gelas air mineral masih merajalela. Kalau di rumah sudah mencoba memisahkan sampah. Tapi yang sulit adalah gelas plastik. Tapi alasannya masih “Kamu mau nyuci?”

Ardhy Bdgberkebun : fenomenanya lebaran memang agak susah dihindari. Karena air minum dalam kemasan sudah ada keranjangnya. Karena ada kesan estetik. Di kegiatan masjid, sempat ada usulan membeli dus-dusan air minum. Tetapi orang tua mengusulkan membeli gelas. Tetapi pendekatan alasannya bukan soal sampahnya, tetapi dengan gelas bisa digunakan  untuk kopi, teh, dan jenis-jenis lain. Karena kebetulan ada mahasiswa, gelas-gelas plastik yang ada bisa dikumpulkan dan digunakan di lain waktu.

Kang Cuham : Ibu saya selalu menyediakan piring dan gelas, sampai meminjam ke tetangga. Karena budaya malas mencuci piring.

Guli : Fenomena air minum kemasan sepertinya baru 10 tahun belakang ini. Pada zaman dahulu juga saya juga masih meminjam tetangga, tetapi setelah itu dicuci bareng-bareng

Shelly : untuk membuat parcel, biasanya sengaja membeli plastik yang bertuliskan. Sebaiknya berikan alternatif dengan kantong kardus. Atau membagi-bagi kurma dengan plastik dan diberi steples. Atau di rumah yang menyediakan permen di salah satu suguhan.

Rahyang : untuk di rumah yang malas masak,beli makanan kemasan

Listi : operasi plastik untuk di setiap acara keluarga, untuk membungkus makanan yang sisa. Kebiasaan seperti ini adalah fenomena sosial. Orang menjadi lebih individualis

Melly : bagaimana teman-teman membeli takjil? Karena biasanya orang menjualnya udah dalam kemasan kecil-kecil.

Shelly : kita yang membiasakan bawa tempat makan sendiri ketika operasi plastik. Ketika kita memilih takjil, harus pintar memilih tukang dagang. Produsen akan tergantung dengan konsumen. Jika celetukan sedikit, tukang dagang akan menanggapi. Praktek mulai dari kitanya sendiri, dan produsen akan tertular. Begitu juga untuk menularkan ke teman-teman sendiri.

Melly : kita bisa bawa wadah sendiri dan samperin ke baskomnya langsung.

Guli : kalau di lingkungan rumah mungkin bisa. Kalau di pinggir jalan, akan ribet ketika harus mewadahi dari rumah. Karena akan sibuk dengan urusan jual beli sambil mewadahi.

Azhari Bdgberkebun : pas 40 harian dan 5 bulanan kelahiran. Ketika disediakan air minum dalam kemasan lebih senang dibanding air minum dalam gelas karena lebih jijik.

Guli : hal ini terjadi juga untuk pertemuan sebelumnya. Kami menyediakan gelas plastik dan gelas YPBB, dan orang-orang cenderung menggunakan gelas plastik karena terlihat lebih baru.

Cuham : usulan untuk bikin kompetisi “Green love” untuk pasangan bergaya hidup ramah lingkungan.

Saka : saya di studio musik. Hubungannya sama polusi suara. Tiap Ramadhan kami libur untuk mengurangi polusi suara. Yang mau saya tanya untuk polusi rokok. Bagaimana buka puasa tidak merokok sebelum takjil?

Anas : kan kita emang masalah utamanya karena AMDK lebih praktis. Dan kita cenderung tidak mau mencuci. Ide bisnis : membuat jasa peminjaman gelas dan mencuci. Bagaimana kalau membuat perkumpulan untuk peminjaman peralatan makan dan mencuci. Bisa menjadi sebuah gerakan yang menarik volunteer.

Unang : kalau untuk zaman sekarang dikhawatirkan untuk kesulitan membayar service. Mending beli aja daripada bayarnya.

Windi : mau minta masukan. Kalau keluarga saya waktu Ramadhan suka banget jajan. Kalau di rumah sudah masak, masih suka jajan. Paling susah mempengaruhi orang tua sendiri.

Tian : Coba bawa wadah sendiri. Kemudian pilih tukang jajanan yang tidak menggunakan wadah yang tidak berbahaya.

Listi : bahasan menularkan ke keluarga bisa menjadi topik sendiri. Kalau aku sejak kecil sudah menjadi kebiasaan keluarga aku. Masuk ke ibu untuk mengeluarkan kebiasaan. Kemudian masuk ke bibi. Untuk sejauh ini kondisi keluargaku.ibu-ibu lebih mudah bergerak lewat ibu-ibu PKK.

Rahyang : biasanya penerapan ke anaknya gimana?

Melly : jajanan warung saya hindari. Saya cari toko yang bisa jual kiloan. Bawa wadahnya. Tetapi wadahnya perlu ditimbang dulu dan lebih repot. Jadi perlu antri belakangan. Kadang plastiknya suka saya pakai ulang, atau saya balikin ke ibu warung. Itu masih diterima kok. YPBB mencatat sampah-sampah yang berharga jual. Kalau hasil riset sudah selesai, bisa dishare.

Rani : ide untuk membagi kontak katering dan restoran yang telah melakukan bentuk zero waste.

Komitmen pribadi :

–          Guli : saya bisa mengurangi dengan membawa tempat makan dan minum sendiri.

–          Rani : coba pake wadah sendiri. Dan kasih usulan untuk wadah danus

–          Windi : coba pake wadah sendiri. Meyakinkan keluarga untuk pake gelas sendiri

–          Anas : mengurangi makan, mengurangi sampah dan konsumsi. Selain itu juga sehat untuk tubuh

–          Ines : makan di tempatnya dan bawa tempat makan

–          Tian : Pengen bikin peta tempat-tempat makan yang zero waste

–          Melly : cari takjil yang zero waste

–          Widi : untuk lebaran masih menutup mata

–          Mengurangi acara buka bareng

–          Mengurangi makanan bungkus

–          Banyakin buka di rumah

–          Masak sendiri

–          Buat kue kering sendiri

–          Lebih giat lagi mencari takjil gratis

–          Gowes ke mana pun

–          Puasa nyampah

–          Merelakan diri jadi tempat cuci piring pas lebaran

–          Coba kebiasaan di komunitas

Informasi kegiatan :

Agung Setiawan Unpad :

Tugas akhir mengenai Green Marketing Hi-Lo. Apakah dari sisi marketing saja atau bagaimana? Nanti akan disebar kuesionernya.

Kang Cuham : sedang mengadakan pelatihan dasar bagi goweser yang mau membetulkan sepeda sendiri. Minggu sore jam 4 di Pelajar pejuang. Mohon doa untuk novel cerita dunia persepedahan dan lingkungan.

Melly : tanggal 5 agustus YPBB ada buka bareng launching buku dan markinon (mari kita nonton).

Tawaran :

Akan ada seleksi dan training dari WEL Facilitator School, lembaga pendidikan dan pelatihan fasilitator pengembangan sikap mental dan karakter, berbasis pendekatan
“persuasive” dan “experiental learning”. Persyaratan:

  1. Senang mengembangkan diri dan orang lain
  2. Mahasiswa/i
  3. Usia maksimum 25 tahun
  4. Siap mengikuti proses seleksi dan pelatihan

Proses seleksi dilaksanakan pada 18 – 23 Juli 2012 pukul 10.00 – 15.00

Informasi dan pendaftaran : Jl. Masjid At-Taqwa No.1 KPAD Gerlong Bandung. Cp Rikrik Telp. 0857-2032-1872. http://www.wel-training.com

Rahyang : bikin buku isinya tentang kehidupan relawan. Akan saya share link kuesionernya.

Sano : FHB harus lebih memberi efek karena sudah memasukin tahun ke 4. FHB harusnya bisa menjadi pusat akses informasi. Mudah-mudahan FHB bisa menjadi portal untuk pertanyaan lingkungan. Mari kita berpikir untuk lebih memberi impact. Dengan kas yang tidak sedikit dan tidak juga banyak, mudah-mudahan bisa memfasilitasi website yang bisa diakses banyak orang.

Listi : kita perlu pemetaan potensi. Ada ide dari kang arif : bagaimana kalau beberapa komunitas di bandung punya video, yang bisa dipasang di sarana publik seperti bandara, bis, dll. Dibagi per beberapa detik untuk beberapa video. Ternyata ga semua masyarakat tahu bahwa ada yang peduli dengan berbagai macam fokus. Sedangkan informasi ini akan sangat mengena ke masyarakat. Kalau belum bisa ke sarana publik, bisa dibagikan ke tiap kampung/RW.

[Notulensi] Pertemuan #1 FHB 12/13: Sosialisasi dan Diskusi RaPerda Kantong Plastik

Bandung (25/05). Forum Hijau Bandung dengan susunan kepengurusan yang baru baru saja melaksanakan pertemuan rutin bulanan pertama pada periode 2012/2013. Pertemuan yang bertempat di sekretariat Walhi Jabar pada tanggal 15 Mei 2012 lalu menyosialisasikan program kerja tim manajemen selama satu periode mendatang dan membahas RaPerda Kantong Plastik yang diusulkan oleh Greeneration Indonesia (GI). Penjelasan detail kronologis disampaikan oleh Sano selaku pihak GI.

Sano secara pribadi diundang untuk sharing kegiatan Diet Kantong Plastik (DKP). Ketika diundang sharing, GI baru mengetahui draft RaPerda tersebut. Pada saat itu, GI mempresentasikan kegiatan DKP. Penjelasan diawali dari hasil riset yang GI lakukan. Karena GI yakin pihak pemerintah tidak melakukan riset sebelum menyusun RaPerda. Harapan dari data yang GI  bawa, pendekatan bisa sesuai dengan perilaku masyarakat. Dari hasil riset dibuat sebuah solusi. Salah satunya membuat sistem atas riset dan prinsip 3R: Reduce, Reuse, Responsible. GI menyusun semacam SOP yang dapat diterapkan oleh pedagang-pedagang yang berpotensi mengeluarkan plastik sebagai bahan pembungkus.

Partisipan mengganggap bahwa Perda ini adalah pesanan dari produsen, padahal dari Perda persampahan sendiri belum jalan. Kalau di legislasi, adalah hal biasa untuk bikin Perda pesanan. Di level Perda sempat ada juga titip menitip, misalnya menitip pasal. Menurut Sawung, pernah ada Perda soal air, Australia sempat membayar untuk Perda air di Bandung. Untuk ini Sawung kurang mengetahui apakah ada transaksi “bayar membayar” atau tidak. Untuk Walhi pernah membiayai undang-undang untuk jaringan peduli bencana. Biayanya cukup mahal, mencapai 2-3 milyar. Namun, itu untuk undang-undang.

Apa yang dimaksud plastik ramah lingkungan? Anil dari YPBB, sebagai lembaga yang fokus ke isu zero waste mulai angkat bicara. Plastik biodegradable itu sebenarnya lebih berbahaya. Ketika pertemuan di BPLHD, seorang produsen berani menjamin biodegradable plastik akan kembali lagi ke tanah. Kalau isunya mau menghilangkan sampah secara fisik, itu bisa tapi tidak tahu untuk lingkungan. Sebenarnya sebaiknya menggunakan kantong tahan lama. Pilihan paling buruk adalah plastik oxium. Karena itu hancur secara fisik saja. Yang perlu tahu adalah plastiknya menggunakan oxium atau tidak. Kalau oxium lebih mudah hancur ketika kena cahaya. Lebih rapuh dibanding plastik biasa. Ketika ada yang bertanya kenapa tidak pakai oxium, bisa dijelaskan alasannya. Ini adalah sarana kita untuk berkampanye tentang plastik oxium. YPBB akan menyebar ke komunitas zero waste

Pertemuan Rutin FHB Januari 2012

Terima kasih kepada saudara Rahyang Nusantara dan saudari Aranti Adriarani, yang bertindak sebagai Relawan Pertemuan Forum Hijau Bandung 26 Januari 2012 lalu di BPLHD Provinsi Jawa Barat.

Bagi rekan-rekan yang tidak sempat hadir, silakan cek apa yang telah didokumentasikan, antara lain FOTO dan NOTULENSI yang telah dibuat. Silakan dicek ya, dan pastinya kami tunggu di Pertemuan FHB bulan FEBRUARI 🙂

Salam lestari!

Dokumen-Dokumen FHB

Berhubung cukup banyak pertemuan Forum Hijau Bandung akhir-akhir ini, demikian juga dokumen-dokumen hasil pertemuan tersebut seperti file-file presentasi dan notulensi , FHB akan membuat mekanisme pengambilan dokumen tersebut.

Pengambilan dokumen dapat rekan-rekan yang berminat lakukan dengan bergabung di Jaringan Milis Forum Hijau Bandung: forumhijaubandung@googlegroups.com. Seluruh dokumen akan ada di file Milis tersebut. Dokumen tidak dapat diberikan dengan tanpa identitas yang jelas, karena dokumen tersebut menyangkut partisipan FHB yang lain sehingga hanya anggota milis yang sudah diketahui datanya atau partisipan FHB lain yang sudah terdaftar.

Mohon dapat dimaklumi, salam kolaborasi! Sampai bertemu di setiap pertemuan FHB.

Notulensi FHB 1 Februari 2010

Senin, 1 Februari 2010 | Aston Braga | Pembicara : Ganesha Hijau | Moderator : HMTL

Resume Presentasi Burhan dari Ganesha Hijau ITB : ITB sedang menginisiasi gerakan Ecocampus, dikoordinatori oleh Ganesha Hijau yang merupakan wadah perkumpulan seluruh lembaga mahasiswa ITB yang konsern terhadap lingkungan. Pada 7 Februari nanti akan diadakan ‘Pencanangan ITB Ecocampus’ yang dipelopori Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB. Ganesha Hijau bersama Tim Ecocampus juga sedang mengriset tentang poin-poin dan aspek Ecocampus, dan proposalnya untuk dibawa ke Rektorat. Selain itu, Burhan juga menceritakan pengalamannya ke Jepang dalam rangka perwakilan ITB di konferensi mahasiswa se-Asean dan Jepang. Jepang sudah sangat maju akan pelestarian dan teknologi lingkungannya.

Pertanyaan, Jawaban dan Tanggapan dalam forum :

1. Bu Tita : 3 orang anak ITB ke Jepang melakukan apa saja di Jepang dan apa tanggapan negara lain gmn ttg Indonesia dan tentang program yg burhan dkk bawa? Dalam menuju ITB Ecocampus mendapat masukkan agar Seni Rupa dilibatkan.
Burhan : Pesertanya dari negara ASEAN, Dari Ganesha Hijau (GH) membawa Program Ganesha Hijau dan ITB Ecocampus. Tanggapan jepang cukup “wah”. GH memberikan kampanye kampanye berwawasan lingkungan tapi ternyata di Jepang merupakan hal yang tidak perlu di kampanyekan karena sudah menjadi suatu kepribadian. Untuk acara Pagelaran Seni Budaya (PSB), tanggapannya sangat bagus karena tentang budaya Indonesia. Dari SBM sendiri menunjukkan cara langsung dalam hal perekonomian dengan memberikan contoh peternakan, Untuk desain produk akan dibutuhkan karena dapat menarik perhatian.

2. Sani Greeners: Mengenai water tap di ITB yang tidak dapat digunakan dan tidak dapat nyala. Apakah sudah disampaikan ke ITB terkait Ecocampus?
Burhan:Memang sedang mati dan sedang diperbaiki. Dan ternyata ada semacam sparepart yg rusak dan harus diimpor. Tp skrg sedang diusahakan oleh Sarpras.
Fariz:Ada sokongan dana dari Alumni. Tp memang ada unit yg lg rusak lg.

3. Aldi IMAG= Himpunan yang baru ikut GH tergolong sedikit, sisa orang-orang itu kemana? Apakah mereka tidak peduli atau bagaimana?
Burhan= GH sudah roadshow, dari bbrp himp memang sudah tertarik tp perannya belum terlihat.
Sano= Senang skrg semua sudah berbicara mengenai lingkungan, dulu segemented cuma ank2 TL saja tapi skrg hampir semua berperan dlm penyelamatan lingkungan, spt GH. Sama dgn dulu UGreen dibuat untuk membuatITB Ecocampus, dan skrg udah dbantu GH.Lucu jg ank2 ITB yg IQnya diatas rata2, sepertinya tidak bisa baca sampah membusuk dan tdk mbusuk. Dulu saya pernah mengusulkan ada punishment, cth ada Satgas Ecocampus.Krn kalo kt butuh KESADARAN, waktuny agak lama. Apalagi waktu mahasiswa skrg sangat sempit dtuntut untuk segera lulus. Irilah dgn UI, mereka sdh ada jalan sepeda. ITB harusny memprovide sepeda khususnya mahasiswa luarkota. Langsung lah ke Rektorat. Baru dr situ peran FHB mempublikasikan ITB Ecocampus ke kampus2 lain di Bandung.Td pertama ttg KEBIJAKAN, kedua INFRASTRUKTUR, ketiga EDUKASI. Tupoksi=tugas pokok dan fungsi.

4. Tedi Bicons= Tentang PLTSa di Bandung, ProKontra PLTSa sangat gencar, dengar-dengar pertengahan ini sudah berjalan. Yg ditakutkan adalah polusi udaranya.
Burhan= Mungkin bgt, tp mennjadi mustahil gara2 yg dbuat langsung Infrastrukturnya bukan kebijakan dan sistemnya dulu. Sperti 20 tahun lalu Jepang itu Indonesia sekarang. PLTSa di Jepang sgt jauh dr pddk kota, kotaSendai. Disana ada kolam renang indoor, dan saranaolahraga serta tempat wisata. Listriknya hasil dariPLTSa tersebut. Dari polusi udara sy kurang ngertitp mungkin sudah ada sistem dan teknologi yg bagus sehingga meminimalisasi polusi.

5. Yuni= Tadi saya lihat PPS Sabuga, sbnrny itu leuweung larangan, krn disitu kn ada mata air. Lindi tktnya bisa msk mata air. Kalian cuma 4 tahun, tp setiap generasi punya tantangan dan masalah sendiri. Jadi tenang saja, kalian adalah solusinya sendiri.Kembangkanlah leadership, seperti kata Arifin Panigoro, kompetensi hanya 10%.

6. Bu Tita= Ada komunitas Dosen sepedaan, yg aktif ada 5 orangan. Kalo ke Rektorat jangan cuma bawa masalah tp jg solusi. Di perpustakaan disain produk ada disain2 prototype yang sayangnya belum direalisasikan.

7. Sano= Usul masukin 3 dharma PT. Ecocampus mendorong mahasiswa sepedaan dari kosan ke kampus, krn dkmpus sendiri lebih enak jln kaki. Tunjukkan ke Pak Akhmaloka bahwa 50% tagihan listrik air akan turun apabila mendukung Ecocampus.

Hasil Dies I – FHB 18 Januari 2010

Urun Rembug FHB (pkl.14.00-18.15)

Presensi Urun Rembug (21 orang): Fariz (HMTL ITB)-Priyo(BGC)-Rena(Fokal)-Ardhi(Tras)-Dody(YPBB)-Tedi(Bicons)-Sany(Greeners)-Kiki-Tian-Herwin(PB)-Dhanny(DPKLTS)-Idang(GPH)-Endang(Rotary)-Dadi(SG)-Priliandi-Tita(DP ITB)-Mufti-Dodi-Nur(NM)-Amanda(KSK)-Sano(GI).

Agenda :

  1. Mendefinisikan FHB lebih jelas dan sesuai kebutuhan
  2. Komitmen Partisipan FHB
  3. Visi Misi jangka pendek menengah panjang
  4. Langkah-langkah strategis FHB kedepan
  5. Membuat Aturan/Tata Tertib/AD-ART FHB

Hasil Bahasan :

1. VISI FHB, karena konstrain waktu bahasan tentang visi FHB, kemarin baru disepakati hingga 4 alternatif yang tidak terlalu jauh berbeda makna diantaranya, namun hanya masalah tata bahasa.

  • Terfasilitasinya upaya pelestarian lingkungan di Kota Bandung oleh berbagai pemangku kepentingan.
  • Terfasilitasinya upaya upaya oleh berbagai pemangku kepentingan untuk pelestarian Kota Bandung.
  • Terfasilitasinya upaya pelestarian lingkungan di Kota Bandung oleh berbagai pemangku kepentingan demi Kota Bandung lestari.
  • Terfasilitasinya seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung usaha pelestarian lingkungan Kota Bandung .

2. DEFINISI FHB, FHB disepakati adalah “sebuah wadah silahturahmi dengan aturan dan manajemen yang disepakati, bersifat terbuka untuk umum, dalam memfasilitasi upaya berbagai pemangku kepentingan untuk pelestarian lingkungan kota Bandung.”

3. Bentuk FHB, disepakati sesuai definisinya merupakan wadah forum silahturahmi non formal yang bertujuan untuk memfasilitasi individu maupun lembaga kota Bandung yang konsern terhadap penyelamatan lingkungan. Sistemnya terbuka dan umum, namun tetap memiliki aturan main berupa ETIKA ber-FHB. Berikut bentuk nyata FHB:

  • Berbagi informasi terkait upaya pelestarian lingkungan Bandung
  • Menyebarkan ide maupun program terkait usaha pelestarian lingkungan dari masing-masing peserta (individu/komunitas/lembaga)
  • Memperluas jaringan dengan harapan terjadi kerjasama lebih lanjut dalam usaha pelestarian lingkungan.

4. Aturan Pengelolaan (Manajemen) FHB

  • Harus ada pengelola yang tetap : dengan batasan waktu kerja
  • Pengelola bersifat voluntary (disepakati dan ditetapkan)
  • Masa Bakti : 1 tahun (boleh dipilih kembali, pokoknya gak seumur hidup)
  • Format Pengelola sesuai kebutuhan: minimal Koordinator, Sekjen (pengelolaan informasi: database, notulen, absensi, dll), dan Program Officer/USB (unit serba bisa) bidang logistik, kehumasan.
  • Ada sistem evaluasi berupa rembug per 6 bulan (sah apabila minimal partisipan 20 orang dari minimal 5 organisasi/lembaga)
  • Memiliki job desc / target kerja terdefinisi yang disepakati

5. Job desc/ Target kerja Pengelola FHB :

  • Menyiapkan dan mengatur berjalannya sebuah forum komunikasi rutin yang disepakati.
  • Mengumpulkan, mendokumentasikan, mensosialisasikan informasi terkait upaya pelestarian lingkungan bandung.
  • Memperluas jaringan dengan harapan terjadi kerjasama lebih lanjut dalam upaya pelestarian lingkungan.

6. Etika umum FHB:

  • FHB milik semua, tidak ada yang dapat mengklaim FHB secara sepihak. Sehingga apabila membawa nama atau memakai logo FHB, harus ada aturan dan kesepakatannya. Namun belum sampai disepakati aturan tersebut > PR!
  • Pada saat forum dilaksanakan dan terdapat sebuah kesepakatan maka partisipan tidak bisa mengubah diluar forum, namun tetap bisa disampaikan untuk masukan tambahan, dan apabila dirasa sangat penting dan mendesak tetap bisa diusulkan pada forum rutin berikutnya.
  • FHB disepakati rutin dilaksanakan 2 minggu sekali dengan tetap selalu menjunjung konsistensi/kontinuitas. Masih disepakati di hari Senin, malam hari, minimal 2 jam.

7. Pemilihan Pengelola FHB

Setelah berdiskusi cukup alot, akhirnya musyawarah pemilihan pengelola FHB: koordinator masa jabatan 2010-2011 berjalan dengan baik. Koordinator sebelumnya yaitu M.Bijaksana Junerosano (Sano) dari Greeneration Indonesia mayoritas diusulkan kembali untuk menjadi koordinator FHB untuk masa yang baru ini. Dengan pertimbangan, Sano merupakan salah satu penggiat dan pelopor FHB dari awal terbentuk, serta memiliki pandangan yang luas untuk mengembangkan FHB dengan evaluasi telah menjabat setahun lalu (sejak 12 Februari 2009). Oleh karena itu disepakati terpilih kembali Sano dari Greeneration Indonesia secara aklamasi. Dan sesuai bahasan sebelumnya, pengelola FHB minimal terdiri dari Koordinator, Sekjen, dan Project Officer/Unit Serba Bisa (USB). Dari musyawarah tersebut, akhirnya terpilih Christian Natalie (Tian) sebagai Sekjen, dan Muhammad Fariz (Fariz) sebagai USB.

Koordinator Sano (keempat dari kanan bawah), Sekjen Tian (kedua dari kanan bawah), dan Fariz (ketiga dari kanan bawah)

Makan Malam dan Apresiasi Hijau Penghargaan 5 stakeholders (pkl.19.30-21.00)

Presensi: 34 orang, dan dihadiri tamu kehormatan Kang Iwan Abdurachman, Kepala BPLHD Jabar Pak Setiawan (setelah lama datang ke FHB), dan Pak Iman Setiawan (calon GM Aston Hotel Braga yang baru pengganti Pak Inan yang akan ke Aston Denpasar).
1. Masyarakat : Irmanjah Madewa

Pak Inan dinilai dengan tulus sebagai warga Bandung yang prihatin terhadap kondisi lingkungan kampung halamannya ini, mampu memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk usaha peningkatan kualitas lingkungan berupa terbentuknya FHB dan memberikan komitmennya sesuai kapasitas yang dimiliki.

2. Pemerintah : Setiawan Wangsaatmadja
Pak Iwan dinilai mampu mengoptimalkan perannya sebagai pemimpin sebuah institusi pemerintah dalam mengupayakan berbagai ruang dialog yang lebih terbuka untuk masyarakat yang diwakili oleh lembaga/organisasi yang peduli lingkungan. Sebagai pemimpin yang memiliki latarbelakang sesuai dengan tupoksi-nya, Pak Iwan benar-benar bersemangat dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang baik.

3. Lembaga : David Sutasurya
Pak David dinilai telah membuat lembaga masyarakat (YPBB) yang aktif bergerak dalam edukasi
lingkungan untuk masyarakat perkotaan dengan berbagai programnya yang membumi dan
dibuktikan secara nyata dalam kehidupan sehari -harinya. Banyak komponen masarakat yang telah
diinspirasi oleh lembaganya maupun oleh sepak terjangnya secara pribadi dalam mengelola
lingkungan secara organis.

4. Penggiat Seni/Budaya : Iwan Abdurachman
Abah Iwan dinilai konsisten dalam berkarya dan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan bahkan
masih bersepeda sampai saat ini di usia yang tidak muda lagi. Abah Iwan memiliki pola hidup bijak
terhadap alam yang akhirnya menjadi panutan banyak orang. Sebagai orang yang memiliki banyak
prestasi, sosok abah telah menjadi inspirasi tersendiri.

5. Swasta : Hotel Aston Braga Bandung
Hotel Aston Braga dinilai secara berkelanjutan melakukan inovasi untuk berpartisipasi dalam usaha
pengelolaan lingkungan secara mikro maupun global. Adaptasi Earth Hour, sebuah program lingkungan tahunan di dunia, mampu dilaksanakan setiap hari di Hotel Ini. Itu salah satu usaha aktif Aston Braga dalam pengelolaan lingkungan selain megelola sampah, penghematan energi, edukasi konsumen, dll. Yang paling utama, Aston Braga telah memberikan kontribusi nyata untuk FHB, yaitu memfasilitasi tempat berlangsungnya FHB.

1. M Bijaksana JuneroSANO (Greeneration Indonesia)

2. Burhanudinsyah (Ganesha Hijau ITB)

3. Tri Yunia Metya (Climate Change Center)

4. Herwin Mutaqin (Pangasuh Bumi)

5. Muhammad Ardhi Elmeidian (TRAS)

6. Dwi Retnastuti (Fokal)

7. Dody (YPBB)

8. Fariz (HMTL ITB)

9. Pak Inan (Aston Hotel)

10. Endang Paminto (Rotary)

11. Andy (Rotaract)

12. D. Larasati (Desain Produk ITB) -baru bisa dtg sktr pk.15.00-

13. Dhanny Rismayadi (DPKLTS)

Notulensi Pertemuan FHB – 4 Januari 2010

Tempat: Aston Hotel Braga | Moderator: Anindito Dodi – Greeneration Indonesia |

Jam 18.30 – 22.00 WIB

Presentasi Pangasuh Bumi (Teh Yuni, Kang Herwin, dan Kang Rahmat)

Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung yang mengelilingi Bandung dan merupakan gunung purba dan merupakan pintu gerbang bagi cekungan Bandung. Berbagai permasalahan yang timbul di wilayah tersebut adalah dari berkurangnya debit mata air di gunung Burangrang, penduduk kehilangan sumber air untuk pertaniannya, pohon yang seharusnya berusia tua menjadi lebih muda, pohon-pohon di tebangi oleh penduduk sekitar sehingga menimbulkan lahan kritis, perubahan guna lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun dengan ditandai oleh banyaknya vila-vila di daerah tersebut, pemakaian air tanah yang tidak terkendali oleh warga perkotaan.

Permasalahan diatas tidak hanya dialami oleh gunung Burangrang saja, tetapi juga dialami oleh hampir semua gunung-gunung yang mengelilingi Bandung bahkan di seluruh Indonesia. Berbagai penyelesaian masalah yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat ataupun lembaga-lembaga masyarakat dirasakan kurang optimal atau bahkan dikatakan tidak berhasil. Hal ini dikarenakan kurangnya penyelesaian yang menyeluruh terhadap permasalahan tersebut, dari masalah sosial, ekonomi bahkan fisik dari wilayah tersebut.

Salah satu alternatif penyelesaian permasalahan  adalah dengan keterlibatan masyarakat lokal dengan pendekatan kearifan lokal Sunda, dengan alasan bahwa dengan memperhatikan keberhasilan komunitas adat Baduy, kampung Naga, Sukabumi yang berhasil mempertahankan kualitas lingkungannya.

Selengkapnya dapat dilihat di http://pangasuhbumi.com/ dan untuk mendapatkan slide presentasi dapat langsung ke Pangasuh Bumi (Kang herwin, dkk), hatur nuhun!

Presentasi Tim FHB goes to Bali

10 Desember 2009, proposal Forum Hijau Bandung (FHB) berhasil menjadi pemenang dari 6 pemenang yang diputuskan. Proposal FHB akan difasilitasi pelaksanannya oleh Departemen PU Dirjen Penataan Ruang pada tahun anggaran 2010. 21 Desember 2009 di Sanur, Bali, acara simbolisasi pemenang oleh Menteri PU dan Dirjen Penataan Ruang. Program yang diusung FHB ialah Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju Kota Lestari (Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan, Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT).
Tim FHB goes to Bali:
1.Pak Inan (Penasihat FHB)
2.Sano (Koord.FHB)
3.Tian (Koord. Program Kolaborasi)
4.Danial (Koord. Eco-Hotel Rating)
5.Yandi (Koord.Program Masuk RT)
Sponsor Akomodasi : Aston Hotel Denpasar

TPA Temesi di Gianyar (www.temesirecycling.com)

Dikelola oleh Rotary Club Bali Ubud dgn Project Leader: David Kuper. Mengelola sampah Gianyar dengan kapasitas 100 ton per hari, yang dapat diolah menjadi kompos 50 ton, dengan menghasilkan 15 ton kompos per hari. luas area TPA sekitar 2400 m2. Dana operasional mencapai 800 juta /tahun (listrik, air, telepon, biaya pegawai). Proyek CDM: Memenuhi syarat pengurangan emisi 77.000 ton CO2 tersertifikasi untuk periode kredit 10 tahun. 12 Desember 2008: United Nations Environment Programme (UNEP) meloloskan proposal Gianyar Waste Recovery Project sebagai peringkat 1 dari 353 proposal yang diseleksi dari negara-negara Asia-Pasifik. Konsepnya: Kampanye publik akan TPA yang bersih, nyaman, & terbuka utk publik.

Tantangan TPA Temesi menurut Tim FHB:

  1. Jaminan kesehatan 80-an pekerja (kebanyakan dari Jawa). Tempat tinggal pekerja yang masih temporal, hanya terbuat dari papan dan bambu.
  2. Dana operasional yang cukup besar yaitu sekitar 800 juta per tahun (listrik, air, telepon, biaya pekerja). Tidak sebanding dengan pemasukan penjualan produk kompos yang dijual Rp 1000/kg, sehingga saat ini pun masih didonasi oleh Rotary-Club Ubud Bali.
  3. Kurang diperhatikan oleh masyarakat dan Pemda setempat, hanya kemudahan tempat yang diberikan oleh Pemda Gianyar seluas 1 hektar.
  4. Pemasaran produk kompos yang masih kurang.
  5. Pemeliharaan TPA Temesi yang harus selalu dijaga.

Seminar “Identitas Kota-Kota Masa Depan di Indonesia” dan Pembahasan Tindak Lanjut Sayembara Kota Lestari di Puri Werdhapura, Sanur. FHB menerima piagam dan plakat penghargaan sebagai simbol pemenang Sayembara ‘Kota Lestari’, oleh Menteri PU Pak Djoko Kirmanto dan Direktur Jendral PU Penataan Ruang, serta jajarannya.

Learning Experience di Bali :

  • Budaya Bali dekat dengan pelestarian lingkungan.
  • Keindahan bali yang merupakan pulau terindah di dunia (kata pak SBY) mengundang banyak penanam modal.
  • Regulasi pemda akan tata ruang yang seharusnya melindungi lingkungan.
  • Seperti yang disampaikan seorang panelis Profesor seminar, setidaknya Bali belum seperti Jakarta/Bdg, masih dapat ‘diselamatkan’.