Dokumen-Dokumen FHB

Berhubung cukup banyak pertemuan Forum Hijau Bandung akhir-akhir ini, demikian juga dokumen-dokumen hasil pertemuan tersebut seperti file-file presentasi dan notulensi , FHB akan membuat mekanisme pengambilan dokumen tersebut.

Pengambilan dokumen dapat rekan-rekan yang berminat lakukan dengan bergabung di Jaringan Milis Forum Hijau Bandung: forumhijaubandung@googlegroups.com. Seluruh dokumen akan ada di file Milis tersebut. Dokumen tidak dapat diberikan dengan tanpa identitas yang jelas, karena dokumen tersebut menyangkut partisipan FHB yang lain sehingga hanya anggota milis yang sudah diketahui datanya atau partisipan FHB lain yang sudah terdaftar.

Mohon dapat dimaklumi, salam kolaborasi! Sampai bertemu di setiap pertemuan FHB.

Iklan

Notulensi FHB 1 Februari 2010

Senin, 1 Februari 2010 | Aston Braga | Pembicara : Ganesha Hijau | Moderator : HMTL

Resume Presentasi Burhan dari Ganesha Hijau ITB : ITB sedang menginisiasi gerakan Ecocampus, dikoordinatori oleh Ganesha Hijau yang merupakan wadah perkumpulan seluruh lembaga mahasiswa ITB yang konsern terhadap lingkungan. Pada 7 Februari nanti akan diadakan ‘Pencanangan ITB Ecocampus’ yang dipelopori Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB. Ganesha Hijau bersama Tim Ecocampus juga sedang mengriset tentang poin-poin dan aspek Ecocampus, dan proposalnya untuk dibawa ke Rektorat. Selain itu, Burhan juga menceritakan pengalamannya ke Jepang dalam rangka perwakilan ITB di konferensi mahasiswa se-Asean dan Jepang. Jepang sudah sangat maju akan pelestarian dan teknologi lingkungannya.

Pertanyaan, Jawaban dan Tanggapan dalam forum :

1. Bu Tita : 3 orang anak ITB ke Jepang melakukan apa saja di Jepang dan apa tanggapan negara lain gmn ttg Indonesia dan tentang program yg burhan dkk bawa? Dalam menuju ITB Ecocampus mendapat masukkan agar Seni Rupa dilibatkan.
Burhan : Pesertanya dari negara ASEAN, Dari Ganesha Hijau (GH) membawa Program Ganesha Hijau dan ITB Ecocampus. Tanggapan jepang cukup “wah”. GH memberikan kampanye kampanye berwawasan lingkungan tapi ternyata di Jepang merupakan hal yang tidak perlu di kampanyekan karena sudah menjadi suatu kepribadian. Untuk acara Pagelaran Seni Budaya (PSB), tanggapannya sangat bagus karena tentang budaya Indonesia. Dari SBM sendiri menunjukkan cara langsung dalam hal perekonomian dengan memberikan contoh peternakan, Untuk desain produk akan dibutuhkan karena dapat menarik perhatian.

2. Sani Greeners: Mengenai water tap di ITB yang tidak dapat digunakan dan tidak dapat nyala. Apakah sudah disampaikan ke ITB terkait Ecocampus?
Burhan:Memang sedang mati dan sedang diperbaiki. Dan ternyata ada semacam sparepart yg rusak dan harus diimpor. Tp skrg sedang diusahakan oleh Sarpras.
Fariz:Ada sokongan dana dari Alumni. Tp memang ada unit yg lg rusak lg.

3. Aldi IMAG= Himpunan yang baru ikut GH tergolong sedikit, sisa orang-orang itu kemana? Apakah mereka tidak peduli atau bagaimana?
Burhan= GH sudah roadshow, dari bbrp himp memang sudah tertarik tp perannya belum terlihat.
Sano= Senang skrg semua sudah berbicara mengenai lingkungan, dulu segemented cuma ank2 TL saja tapi skrg hampir semua berperan dlm penyelamatan lingkungan, spt GH. Sama dgn dulu UGreen dibuat untuk membuatITB Ecocampus, dan skrg udah dbantu GH.Lucu jg ank2 ITB yg IQnya diatas rata2, sepertinya tidak bisa baca sampah membusuk dan tdk mbusuk. Dulu saya pernah mengusulkan ada punishment, cth ada Satgas Ecocampus.Krn kalo kt butuh KESADARAN, waktuny agak lama. Apalagi waktu mahasiswa skrg sangat sempit dtuntut untuk segera lulus. Irilah dgn UI, mereka sdh ada jalan sepeda. ITB harusny memprovide sepeda khususnya mahasiswa luarkota. Langsung lah ke Rektorat. Baru dr situ peran FHB mempublikasikan ITB Ecocampus ke kampus2 lain di Bandung.Td pertama ttg KEBIJAKAN, kedua INFRASTRUKTUR, ketiga EDUKASI. Tupoksi=tugas pokok dan fungsi.

4. Tedi Bicons= Tentang PLTSa di Bandung, ProKontra PLTSa sangat gencar, dengar-dengar pertengahan ini sudah berjalan. Yg ditakutkan adalah polusi udaranya.
Burhan= Mungkin bgt, tp mennjadi mustahil gara2 yg dbuat langsung Infrastrukturnya bukan kebijakan dan sistemnya dulu. Sperti 20 tahun lalu Jepang itu Indonesia sekarang. PLTSa di Jepang sgt jauh dr pddk kota, kotaSendai. Disana ada kolam renang indoor, dan saranaolahraga serta tempat wisata. Listriknya hasil dariPLTSa tersebut. Dari polusi udara sy kurang ngertitp mungkin sudah ada sistem dan teknologi yg bagus sehingga meminimalisasi polusi.

5. Yuni= Tadi saya lihat PPS Sabuga, sbnrny itu leuweung larangan, krn disitu kn ada mata air. Lindi tktnya bisa msk mata air. Kalian cuma 4 tahun, tp setiap generasi punya tantangan dan masalah sendiri. Jadi tenang saja, kalian adalah solusinya sendiri.Kembangkanlah leadership, seperti kata Arifin Panigoro, kompetensi hanya 10%.

6. Bu Tita= Ada komunitas Dosen sepedaan, yg aktif ada 5 orangan. Kalo ke Rektorat jangan cuma bawa masalah tp jg solusi. Di perpustakaan disain produk ada disain2 prototype yang sayangnya belum direalisasikan.

7. Sano= Usul masukin 3 dharma PT. Ecocampus mendorong mahasiswa sepedaan dari kosan ke kampus, krn dkmpus sendiri lebih enak jln kaki. Tunjukkan ke Pak Akhmaloka bahwa 50% tagihan listrik air akan turun apabila mendukung Ecocampus.

Hasil Dies I – FHB 18 Januari 2010

Urun Rembug FHB (pkl.14.00-18.15)

Presensi Urun Rembug (21 orang): Fariz (HMTL ITB)-Priyo(BGC)-Rena(Fokal)-Ardhi(Tras)-Dody(YPBB)-Tedi(Bicons)-Sany(Greeners)-Kiki-Tian-Herwin(PB)-Dhanny(DPKLTS)-Idang(GPH)-Endang(Rotary)-Dadi(SG)-Priliandi-Tita(DP ITB)-Mufti-Dodi-Nur(NM)-Amanda(KSK)-Sano(GI).

Agenda :

  1. Mendefinisikan FHB lebih jelas dan sesuai kebutuhan
  2. Komitmen Partisipan FHB
  3. Visi Misi jangka pendek menengah panjang
  4. Langkah-langkah strategis FHB kedepan
  5. Membuat Aturan/Tata Tertib/AD-ART FHB

Hasil Bahasan :

1. VISI FHB, karena konstrain waktu bahasan tentang visi FHB, kemarin baru disepakati hingga 4 alternatif yang tidak terlalu jauh berbeda makna diantaranya, namun hanya masalah tata bahasa.

  • Terfasilitasinya upaya pelestarian lingkungan di Kota Bandung oleh berbagai pemangku kepentingan.
  • Terfasilitasinya upaya upaya oleh berbagai pemangku kepentingan untuk pelestarian Kota Bandung.
  • Terfasilitasinya upaya pelestarian lingkungan di Kota Bandung oleh berbagai pemangku kepentingan demi Kota Bandung lestari.
  • Terfasilitasinya seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung usaha pelestarian lingkungan Kota Bandung .

2. DEFINISI FHB, FHB disepakati adalah “sebuah wadah silahturahmi dengan aturan dan manajemen yang disepakati, bersifat terbuka untuk umum, dalam memfasilitasi upaya berbagai pemangku kepentingan untuk pelestarian lingkungan kota Bandung.”

3. Bentuk FHB, disepakati sesuai definisinya merupakan wadah forum silahturahmi non formal yang bertujuan untuk memfasilitasi individu maupun lembaga kota Bandung yang konsern terhadap penyelamatan lingkungan. Sistemnya terbuka dan umum, namun tetap memiliki aturan main berupa ETIKA ber-FHB. Berikut bentuk nyata FHB:

  • Berbagi informasi terkait upaya pelestarian lingkungan Bandung
  • Menyebarkan ide maupun program terkait usaha pelestarian lingkungan dari masing-masing peserta (individu/komunitas/lembaga)
  • Memperluas jaringan dengan harapan terjadi kerjasama lebih lanjut dalam usaha pelestarian lingkungan.

4. Aturan Pengelolaan (Manajemen) FHB

  • Harus ada pengelola yang tetap : dengan batasan waktu kerja
  • Pengelola bersifat voluntary (disepakati dan ditetapkan)
  • Masa Bakti : 1 tahun (boleh dipilih kembali, pokoknya gak seumur hidup)
  • Format Pengelola sesuai kebutuhan: minimal Koordinator, Sekjen (pengelolaan informasi: database, notulen, absensi, dll), dan Program Officer/USB (unit serba bisa) bidang logistik, kehumasan.
  • Ada sistem evaluasi berupa rembug per 6 bulan (sah apabila minimal partisipan 20 orang dari minimal 5 organisasi/lembaga)
  • Memiliki job desc / target kerja terdefinisi yang disepakati

5. Job desc/ Target kerja Pengelola FHB :

  • Menyiapkan dan mengatur berjalannya sebuah forum komunikasi rutin yang disepakati.
  • Mengumpulkan, mendokumentasikan, mensosialisasikan informasi terkait upaya pelestarian lingkungan bandung.
  • Memperluas jaringan dengan harapan terjadi kerjasama lebih lanjut dalam upaya pelestarian lingkungan.

6. Etika umum FHB:

  • FHB milik semua, tidak ada yang dapat mengklaim FHB secara sepihak. Sehingga apabila membawa nama atau memakai logo FHB, harus ada aturan dan kesepakatannya. Namun belum sampai disepakati aturan tersebut > PR!
  • Pada saat forum dilaksanakan dan terdapat sebuah kesepakatan maka partisipan tidak bisa mengubah diluar forum, namun tetap bisa disampaikan untuk masukan tambahan, dan apabila dirasa sangat penting dan mendesak tetap bisa diusulkan pada forum rutin berikutnya.
  • FHB disepakati rutin dilaksanakan 2 minggu sekali dengan tetap selalu menjunjung konsistensi/kontinuitas. Masih disepakati di hari Senin, malam hari, minimal 2 jam.

7. Pemilihan Pengelola FHB

Setelah berdiskusi cukup alot, akhirnya musyawarah pemilihan pengelola FHB: koordinator masa jabatan 2010-2011 berjalan dengan baik. Koordinator sebelumnya yaitu M.Bijaksana Junerosano (Sano) dari Greeneration Indonesia mayoritas diusulkan kembali untuk menjadi koordinator FHB untuk masa yang baru ini. Dengan pertimbangan, Sano merupakan salah satu penggiat dan pelopor FHB dari awal terbentuk, serta memiliki pandangan yang luas untuk mengembangkan FHB dengan evaluasi telah menjabat setahun lalu (sejak 12 Februari 2009). Oleh karena itu disepakati terpilih kembali Sano dari Greeneration Indonesia secara aklamasi. Dan sesuai bahasan sebelumnya, pengelola FHB minimal terdiri dari Koordinator, Sekjen, dan Project Officer/Unit Serba Bisa (USB). Dari musyawarah tersebut, akhirnya terpilih Christian Natalie (Tian) sebagai Sekjen, dan Muhammad Fariz (Fariz) sebagai USB.

Koordinator Sano (keempat dari kanan bawah), Sekjen Tian (kedua dari kanan bawah), dan Fariz (ketiga dari kanan bawah)

Makan Malam dan Apresiasi Hijau Penghargaan 5 stakeholders (pkl.19.30-21.00)

Presensi: 34 orang, dan dihadiri tamu kehormatan Kang Iwan Abdurachman, Kepala BPLHD Jabar Pak Setiawan (setelah lama datang ke FHB), dan Pak Iman Setiawan (calon GM Aston Hotel Braga yang baru pengganti Pak Inan yang akan ke Aston Denpasar).
1. Masyarakat : Irmanjah Madewa

Pak Inan dinilai dengan tulus sebagai warga Bandung yang prihatin terhadap kondisi lingkungan kampung halamannya ini, mampu memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk usaha peningkatan kualitas lingkungan berupa terbentuknya FHB dan memberikan komitmennya sesuai kapasitas yang dimiliki.

2. Pemerintah : Setiawan Wangsaatmadja
Pak Iwan dinilai mampu mengoptimalkan perannya sebagai pemimpin sebuah institusi pemerintah dalam mengupayakan berbagai ruang dialog yang lebih terbuka untuk masyarakat yang diwakili oleh lembaga/organisasi yang peduli lingkungan. Sebagai pemimpin yang memiliki latarbelakang sesuai dengan tupoksi-nya, Pak Iwan benar-benar bersemangat dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang baik.

3. Lembaga : David Sutasurya
Pak David dinilai telah membuat lembaga masyarakat (YPBB) yang aktif bergerak dalam edukasi
lingkungan untuk masyarakat perkotaan dengan berbagai programnya yang membumi dan
dibuktikan secara nyata dalam kehidupan sehari -harinya. Banyak komponen masarakat yang telah
diinspirasi oleh lembaganya maupun oleh sepak terjangnya secara pribadi dalam mengelola
lingkungan secara organis.

4. Penggiat Seni/Budaya : Iwan Abdurachman
Abah Iwan dinilai konsisten dalam berkarya dan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan bahkan
masih bersepeda sampai saat ini di usia yang tidak muda lagi. Abah Iwan memiliki pola hidup bijak
terhadap alam yang akhirnya menjadi panutan banyak orang. Sebagai orang yang memiliki banyak
prestasi, sosok abah telah menjadi inspirasi tersendiri.

5. Swasta : Hotel Aston Braga Bandung
Hotel Aston Braga dinilai secara berkelanjutan melakukan inovasi untuk berpartisipasi dalam usaha
pengelolaan lingkungan secara mikro maupun global. Adaptasi Earth Hour, sebuah program lingkungan tahunan di dunia, mampu dilaksanakan setiap hari di Hotel Ini. Itu salah satu usaha aktif Aston Braga dalam pengelolaan lingkungan selain megelola sampah, penghematan energi, edukasi konsumen, dll. Yang paling utama, Aston Braga telah memberikan kontribusi nyata untuk FHB, yaitu memfasilitasi tempat berlangsungnya FHB.

1. M Bijaksana JuneroSANO (Greeneration Indonesia)

2. Burhanudinsyah (Ganesha Hijau ITB)

3. Tri Yunia Metya (Climate Change Center)

4. Herwin Mutaqin (Pangasuh Bumi)

5. Muhammad Ardhi Elmeidian (TRAS)

6. Dwi Retnastuti (Fokal)

7. Dody (YPBB)

8. Fariz (HMTL ITB)

9. Pak Inan (Aston Hotel)

10. Endang Paminto (Rotary)

11. Andy (Rotaract)

12. D. Larasati (Desain Produk ITB) -baru bisa dtg sktr pk.15.00-

13. Dhanny Rismayadi (DPKLTS)

Notulensi Pertemuan FHB – 4 Januari 2010

Tempat: Aston Hotel Braga | Moderator: Anindito Dodi – Greeneration Indonesia |

Jam 18.30 – 22.00 WIB

Presentasi Pangasuh Bumi (Teh Yuni, Kang Herwin, dan Kang Rahmat)

Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung yang mengelilingi Bandung dan merupakan gunung purba dan merupakan pintu gerbang bagi cekungan Bandung. Berbagai permasalahan yang timbul di wilayah tersebut adalah dari berkurangnya debit mata air di gunung Burangrang, penduduk kehilangan sumber air untuk pertaniannya, pohon yang seharusnya berusia tua menjadi lebih muda, pohon-pohon di tebangi oleh penduduk sekitar sehingga menimbulkan lahan kritis, perubahan guna lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun dengan ditandai oleh banyaknya vila-vila di daerah tersebut, pemakaian air tanah yang tidak terkendali oleh warga perkotaan.

Permasalahan diatas tidak hanya dialami oleh gunung Burangrang saja, tetapi juga dialami oleh hampir semua gunung-gunung yang mengelilingi Bandung bahkan di seluruh Indonesia. Berbagai penyelesaian masalah yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh masyarakat ataupun lembaga-lembaga masyarakat dirasakan kurang optimal atau bahkan dikatakan tidak berhasil. Hal ini dikarenakan kurangnya penyelesaian yang menyeluruh terhadap permasalahan tersebut, dari masalah sosial, ekonomi bahkan fisik dari wilayah tersebut.

Salah satu alternatif penyelesaian permasalahan  adalah dengan keterlibatan masyarakat lokal dengan pendekatan kearifan lokal Sunda, dengan alasan bahwa dengan memperhatikan keberhasilan komunitas adat Baduy, kampung Naga, Sukabumi yang berhasil mempertahankan kualitas lingkungannya.

Selengkapnya dapat dilihat di http://pangasuhbumi.com/ dan untuk mendapatkan slide presentasi dapat langsung ke Pangasuh Bumi (Kang herwin, dkk), hatur nuhun!

Presentasi Tim FHB goes to Bali

10 Desember 2009, proposal Forum Hijau Bandung (FHB) berhasil menjadi pemenang dari 6 pemenang yang diputuskan. Proposal FHB akan difasilitasi pelaksanannya oleh Departemen PU Dirjen Penataan Ruang pada tahun anggaran 2010. 21 Desember 2009 di Sanur, Bali, acara simbolisasi pemenang oleh Menteri PU dan Dirjen Penataan Ruang. Program yang diusung FHB ialah Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju Kota Lestari (Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan, Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT).
Tim FHB goes to Bali:
1.Pak Inan (Penasihat FHB)
2.Sano (Koord.FHB)
3.Tian (Koord. Program Kolaborasi)
4.Danial (Koord. Eco-Hotel Rating)
5.Yandi (Koord.Program Masuk RT)
Sponsor Akomodasi : Aston Hotel Denpasar

TPA Temesi di Gianyar (www.temesirecycling.com)

Dikelola oleh Rotary Club Bali Ubud dgn Project Leader: David Kuper. Mengelola sampah Gianyar dengan kapasitas 100 ton per hari, yang dapat diolah menjadi kompos 50 ton, dengan menghasilkan 15 ton kompos per hari. luas area TPA sekitar 2400 m2. Dana operasional mencapai 800 juta /tahun (listrik, air, telepon, biaya pegawai). Proyek CDM: Memenuhi syarat pengurangan emisi 77.000 ton CO2 tersertifikasi untuk periode kredit 10 tahun. 12 Desember 2008: United Nations Environment Programme (UNEP) meloloskan proposal Gianyar Waste Recovery Project sebagai peringkat 1 dari 353 proposal yang diseleksi dari negara-negara Asia-Pasifik. Konsepnya: Kampanye publik akan TPA yang bersih, nyaman, & terbuka utk publik.

Tantangan TPA Temesi menurut Tim FHB:

  1. Jaminan kesehatan 80-an pekerja (kebanyakan dari Jawa). Tempat tinggal pekerja yang masih temporal, hanya terbuat dari papan dan bambu.
  2. Dana operasional yang cukup besar yaitu sekitar 800 juta per tahun (listrik, air, telepon, biaya pekerja). Tidak sebanding dengan pemasukan penjualan produk kompos yang dijual Rp 1000/kg, sehingga saat ini pun masih didonasi oleh Rotary-Club Ubud Bali.
  3. Kurang diperhatikan oleh masyarakat dan Pemda setempat, hanya kemudahan tempat yang diberikan oleh Pemda Gianyar seluas 1 hektar.
  4. Pemasaran produk kompos yang masih kurang.
  5. Pemeliharaan TPA Temesi yang harus selalu dijaga.

Seminar “Identitas Kota-Kota Masa Depan di Indonesia” dan Pembahasan Tindak Lanjut Sayembara Kota Lestari di Puri Werdhapura, Sanur. FHB menerima piagam dan plakat penghargaan sebagai simbol pemenang Sayembara ‘Kota Lestari’, oleh Menteri PU Pak Djoko Kirmanto dan Direktur Jendral PU Penataan Ruang, serta jajarannya.

Learning Experience di Bali :

  • Budaya Bali dekat dengan pelestarian lingkungan.
  • Keindahan bali yang merupakan pulau terindah di dunia (kata pak SBY) mengundang banyak penanam modal.
  • Regulasi pemda akan tata ruang yang seharusnya melindungi lingkungan.
  • Seperti yang disampaikan seorang panelis Profesor seminar, setidaknya Bali belum seperti Jakarta/Bdg, masih dapat ‘diselamatkan’.